Ini sebuah cerita Fiktif yg pertama kali saya buat, masih banyak kekurangan dan kesalah-kesalah kecil di dalam pengetikan maupun bahasanya,mohon maklum bila anda membacanya kurang nyaman dengan penggunaan kata terutama disi saya terlalu banyak menyebutkan kata "Aku" sebagai sudut pandang orang pertama.
Tapi bukan kata yg terpenting sebagai pemula, tapi isi cerita yg menghanyutkan para pembaca....
So....please enjoy it....
Tapi bukan kata yg terpenting sebagai pemula, tapi isi cerita yg menghanyutkan para pembaca....
So....please enjoy it....
1
Pagi itu daku bangun seperti biasa, cuaca di luar juga
begitu cerah, bergegaslah daku mandi soalnya mau berangkat sekolah. Selesai
mandi langsung deh pake seragam dan sarapan, terus berangkat ke sekolah deh. Sesampainya
di sekolah buru-buru daku ke kelas, soalnya daku pegang kunci kelas nih.
“Wah gawat telat!” Sambil melihat jam tangan.
Langsung dah daku lari ke kelas.
“Ternyata belum
ada siapa-siapa di sini” Cape daku ngos-ngosan gini.
Sambil nunggu temen datang daku liat-liat buku
kalau-kalau ada PR yang belum selesai.
“Hufh.... Ternyata semuanya udah beres dengan sempurna” Lega dakh.
“Kemanaya yang lainnya? Jam segini ko lum pada dateng
juga?” Heran.
Tak lama kemudian mereka dateng juga dan duduk di tempatnya.
“Kenapa aneh banget sih, gx
biasanya mereka kaya gini, ada apa ya?? Biasanya juga ribut belum ngerjain
tugas” Daku
bertanya-tanya ini dalam hati.
Tiba-tiba dari pinggir Chandra mengagetkan.
“Daaaaaarrrrrr! Lagi ngelamun apaan lo?” Dengan tertawa pelan.
“Gini lo, kenapa ya mereka semua diem? Biasanya
juga ribut karena belum mengerjakan PR” Tanyaku.
“Mungkin mereka udah mengerjain PR kali” Jawab Chandra, ya
walau agak ragu.
Bel masuk berbunyi. Tak lama kemudian. Guru datang dan memulai
pelajarannya dengan tenang. Tak lama menerangkan kami
semua disuruh ngerjain tugas yang ada di buku.
Tau-tau Chandra ngebisikin sesuatu “Ian, anter ke toilet yu!” Ajak Chandra
sambil berbisik.
“Ayo, tapi kamu yang bilang ke guru ya?!” Daku nyuruh.
“Iya iya tenang ajadeh!”
Jawab Chandra.
Lalu kami pergi deh ke bangunan yang ada toiletnya. Nah! dari situlah
awalnya.
2
Untuk masuk ke toilet harus masuk ke
bangunan lama lebih dulu. Bangunan itu gelap banget dan dalamnya itu ada 5 ruangan.
Salah satunya ya toilet itu yang ada di ruangan ke 5 paling belakang. Jadi harus
lewatin 4 ruangan deh. Kami langsung masuk ke gedung itu, bangunannya gelap
banget, gak
ada lampu lagi.
“Gelap banget sih?” Tanyaku
agak takut.
“Tenang aja, inikan siang bolong. Enggak
akan ada hantu kali” Jawabannya
yakin seakan-akan gak takut hantu.
“Tapi ku rasa ada yang aneh deh dengan bangunan ni!” Ujarku.
“Udalah jangan ngomong
yang enggak-enggak” Ucap
Chandra dengan nada ketakutan.
“Sepertinya ku juga ingin buang air nih” Ujarku dengan sedikit takut.
Kami masuk deh ke bangunan itu. Dan terpaksa lewat 4
ruangan yang digunakan gudang. Akhirnya sampai juga di toilet.
Selesai buang air kecil daku mengambil air dari bak buat bersihin
tangan. Saat
itu daku tak lihat ke dalamnya,
tapi pas yang kedua kalinya, daku liat kedalam bak itu. Daku liat ada
kerangka manusia di dalam bak itu!
Daku teriak dah, trus Chandra dateng deh.
“Ada apa?” Teriak Chandra sambil
keheranan.
“A-a-ada kerangka manusia di dalam bak air tu!!” Kataku dengan nada
ketakutan.
“Manamungkin akh ada kerangka manusia di dalam bak. Jangan
melucu ah! Gak lucu”
Ledek Chandra.
“Beneran gak boong! Coba ja lihat sendiri” Suruhku dengan
agak kesal.
Lalu Chandra melihat ke dalamnya.
“Aaaaaaagh!!!” Teriak
Chandra kaget.
“Bener ternyata mang ada kerangkanya!!” Kata Chandra
dengan gemetar.
“Mending
kita keluar dari tempat ini sekarang juga sebelum terjadi sesuatu yang
naeh-aneh!” Ajakku ke
Chandra.
“Ayo deh! Ide bagus!” Jawab Chandra sambil bergegas ke arah pintu.
Setelah keluar
dari toilet kami harus lewat 4 gudang lagi deh. Sebelumnya kami duduk dan
bersandar dulu di pintu toilet atau ruang 4, soalnya cape dah lari-lari tadi.
“Pyuuuuuh, akhirnya selamat juga” Kata Chandra
dengan nada pelan.
“Ya! Bener, tapi sekarang harus keluar dari
gudang ini, mungkin ja disini ada hantu juga atau mungkin semacamnya” Ujarku sambil
terengah-engah.
Tiba-tiba
kami merasa kalau gudang itu bergoyang seperti gempa.
“Kenapa ni? Ko goyang-goyang gini??” Tanya Chandra sambil
bangun dari duduknya.
“Mungkin ada gempa atau semacamnya kali” Jawabku ragu.
Setelah getaran itu selesai, kami berdua terdiam sejenak
sambil kelelahan karena gempa tadi. Tau-tau datang lagi getaran yang lebih
keras. Kami berpegangan pada benda yang ada biar gak jatuh.
Getaran itu sangat kuat sampai-sampai pegangan terlepas
dan jatuh. Kepala kami berbentura, akibat benturan yang sangat keras kami
berdua pingsan dan dari situlah daku tak tau apa yang terjadi saat kami
pingsan.
3
Daku sadar dari
pingsan dan saat bangun daku liat di depan ada kerangka manusia lagi. Sekarang
kerangka itu digantung oleh seutas tali tambang yang keliatannya udah lama.
Kerangka itu seperti orang yang gantung diri, tapi kenapa
bisa ada di situ padahal waktu masuk gak ada disana lalu aku
membangunkan Chandra
yang masih pingsan.
“Bangun! Bangun!
Bangun Chandra! Cepatlah bangun” Teriakku
sambil mengguncang-guncang tubuhnya agar cepat bangun. Lalu Chandra pun terbangun
dari pingsannya.
“Ada apa sih ribut amat Rian?” Tanya Chandra sambil
mengusap-usap kepalanya yang tadi terbentur dengan kepalaku. “Lihat itu Chan!
Ada kerangka manusia lagi! Tapi kerangkanya digantung” Kataku dengan
tagas. “Mana kerangkanya? Iya
kenapa bisa ada disana? Tadikan
ada di toilet” Kata Chandra dengan heran.
“Bagaimana ini apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanyaku.
“Bagaimana
kalau kita lari saja dari sini sekarang juga!” Ucap
Chandra dengan perlahan. “Tapi bagaimana caranya? Kerangka itukan ada didepan
pintu keluar” Tanyaku.
“Gimana
kalau kita singkirkan saja kerangka itu, bukannya kerangka itu tidak bergerak” Ajak Chandra
dengan tegas tapi perlahan. “Boleh saja, mungkin kita bisa menyingkirkannya
dengan menggunakan kursi yang ada di pinggirnya, bagaimana?” Ujarku.
“Ok
kalau begitu, kita lakukan sekarang juga” Jawab
Chandra dengan semangat. Kami berdua pun berjalan mendekati tumpukan kursi bekas yang ada di
pinggir kerangka itu. “Siap! Satu... dua... tiga... dorooooong!” kata Chandra
dengan keras.
Kursi-kursi itu pun terjatuh dan menimpa kerangka itu. Lalu aku membuka
pintu itu tapi anehnya pintu itu tidak mau terbuka. “Chan! Bagaimana ini
pintunya tidak bisa dibuka, sepertinya dikunci dari luar” Ujarku.
“Tidak mungkin
kalau dikunci dari luar! Pintu
inikan tidak ada kuncinya, mungkin ada yang mengganjal dari luar” Ucap Chandra dengan nada agak
takut. “Gimana kalau kita dobrak saja pintu ini” Usulku dengan. “Baik kalau begitu, kita dobrak ber
sama-sama, Ok!” Ujar
Chandra.
“Ok! Siap yah, satu...
dua... tiga...!” Ucapku. Kami pun mendobraknya
bersama-sama. Tapi kami berdua terpental kembali oleh pintu itu. “Aduh! Pundakku sakit nih, sepertinya kita tidak kuat
mendobrak pintu ini” Kata
Chandra dengan
nada kecawa.
“Kita gunakan saja kursi yang ada di sini mungkin dapat terbuka” Saranku dengan.
“Itu ide yang bagus! Kita dapat mendobraknya dengan bergiliran, mungkin sampai
pintunya hancur” Ucap Chandra.
“Ayo
cepat ambil kursinya kamu satu aku satu, kita mendobraknya bergilira, biar aku
duluan yang mulai” Saranku
sambil memegang kursi.
Kami berdua
pun terus menerus mendobrak pintu itu dengan kursi. Rasanya begitu lama
untuk mendobrak pintu itu. Mungkin
kita berdua sudah ketinggalan pelajaran dan mungkin saat kita keluar dari
tempat mengerikan ini kami akan dimarahi oleh guru kami atau mungkin kita tidak
akan bisa keluar dari bangunan mengerikan ini.
“Apa kita sudah ketinggalan pelajaran sekarang dan akan
dimarahi oleh guru?” Tanyaku
kepada Chandra. “Mungkin kita sudah ketinggalan, tapi itu belum tetu kita
dimarahi oleh guru, keluar dari sini saja belum tentu” Jawab Chandra.
“Jangan bilang begitu, kita pasti bisa keluar dari sini
jadi kita jangan putus asa” Kataku
kepada Chandra agar tidak putus asa. Tidak lama kemudian pintu itu pun terbuka. “Wah
hebat! Pintunya terbuka kita selamat, ayo cepat kita keluar” Kata Chandra
dengan gembira.
4
Kami berdua
pun keluar dari ruangan itu. Tapi tunggu dulu! Sebelum kami keluar. Kami harus melewati 3 ruangan lagi!
Mungkin saja di dalam ruangan itu ada hantunya. “Belum! Kita belum bisa keluar dari
sini!” Ujarku sambil berteriak.
“Kenapa kita belum
bisa keluar dari sini?”
Tanya Chandra.
“Karena sebelumnya kita harus melewati 3 ruangan lagi
sekarang, mungkin sajakan diruangan itu ada hantu lagi!” Ucapku.
“Iya juga ya, terus kita harus bagaimana dong?” Tanya Chandra. “Yaaaaaa terpaksa
kita harus melewati 3 ruangan itu dengan cepat kalau kita mau cepat keluar dari
bangunan ini” Ujarku
meyakinkannya. Kamipun masuk ke ruangan berikutnya dan ternyata di sana ada 4
peti mati.
Disebelah kanan kami ada 2 peti mati bentuknya persegi
panjang dan berwarna coklat yang terggeletak di lantai dan disebelah kiri kami
ada 2 lagi peti mati. Tapi peti mati itu bentuknya tidak persegi pajang. Tapi berbentuk seperti manusia mesir
dengan warna kuning dan hijau. Posisinya pun tidak
tergeletak tapi bersandar pada dinding.
“Lihat itu Chan! Di
sebelah sana ada 2 peti mati tergeletak!” Kataku sambil ketakutan. “Lihat di sana juga ada 2 peti
mati! Tapi bentuknya seperti manusia mesir dan bersandar pada dinding, apa yang
harus kita lakukan sekarang?” Tanya
Chandra dengan takut juga.
“Bagaimana kalau
kita lihat saja ke dalam peti mati itu, kita coba lihat 2 peti mati yang
tergeletak itu terlebih dahulu, baru 2 yang
bersandar didinding itu, bagaimana?” Tanyaku
dengan perlahan. “Boleh saja, tapi bagaimana kalau kita dikejar oleh yang
berada di dalamnya?”
Tanya Chandra.
“Mana mungkin! Pasti yang berada di dalamnya sudah
meninggal” Saranku. “Ayo
kalau begitu kita buka, kamu buka yang sebelah situ aku yang satunya lagi,
siap!” Ucap Chandra dengan berani. Kami
berdua pun
mendekati peti mati yang tergeletak itu dan membukanya dengan perlahan
tentunya. Setelah terbuka kami melihat ke dalamnya. “Aaaaaaagh!” Teriak Chandra
ketakuta.
“Tidak usah takut
Chan, inikan sudah meninggal tidak mungkin hidup kembali” Ucapku menenangkan
Chandra. Kami berdua melihat ke dalam peti mati itu lagi dan mengamati mayat
yang ada di dalamnya.
Tapi tiba-tiba mata mayat itu terbuka dengan lebarnya.
Kami berdua pun
menjadi kaget dan menutup segera tutup peti mati itu. “Hu.....h aku kaget
sekali, dengan matanya yang terbuka lebar itu!” Kataku dengan lelah karena keget. “Sama aku juga kaget, kenapa bisa begitu ya?” Tanya Chandra.
“Aku juga tidak tau, tapi
untung saja kita menutupnya lebih cepat mungkin kalau tidak di tutup kita bisa
dikejarnya” Jawabku
sambil terengah-engah. “Sekarang kita harus membuka peti yang lainnya lagi” Ujar Chandra.
“Mungkin isi peti mati itu mummi yang dapat mengejar
kita” Ucapku. “Mungkin
saja, tapi kita tetap harus membuka peti mati itu” Ajak Chandra
kepadaku. “Baiklah ayo cepat jangan buang-buang waktu lagi, agar kita cepat keluar
dari sini” Ajakku
dengan bergegas karena aku sudah tidak tahan lagi tinggal di bangunan
menakutkan ini.
Lalu kami berdua mendekati peti mati yang lainnya dan
setelah dekat kami
pun membuka petinya secara bersamaan. Setelah kami membukanya kami berdua berteriak
kencang karena didalam peti itu ada mummi yang sedang tertidur kaku.
Seluruh tubuhnya dililiti oleh perban yang kotor dan
dikelilingi oleh sarang laba-laba yang seperti benang yang kusut dan kami
segera menutup peti itu agar tidak terbangun dan menangkap kami. Lalu tiba-tiba
pintu menuju ke
ruangan ke 2 pun
terbuka
“Lihat! Akhirnya pintu itu terbuka juga, apa ku bilang
kita harus membuka ke 4 peti mati ini baru
kita bisa keluar dari sini” Kataku dengan gembira.
Kami berdua pun
menuju ke ruangan 2.
5
Lalu kami masuk ke ruangan itu dan di situ ada kejadian
yang sanngat menggelikan bagi kami. Di ruangan itu banyak sekali
kerangka-kerangka manusia yang tergeletak di lantai. “Lihat semua ini! ada
banyak sekali kerangka-kerangka yang tergeletak” Ucapku.
“Apa mungkin mereka semua hidup?” Tanya Chandra. “Ya! Mungkin saja mereka hidup, tapi
rasanya mereka tidak hidup karena mereka hanya diam saja tak
bergerak sedikit pun”
“Tapikan mungkin saja mereka bisa hidup nantinya seperti
mayat yang tadi di ruangan 3, jadi lebih baik kita pergi dari sini sebelum
mereka hidup” Saran Chandra.
“Baiklah kalau begitu kita pergi dari sini sekarang juga”
Ujarku sambil berjalan ke pintu. Setelah sampai
didekat pintu Chandra mulai membuka pintu itu dengan segera tapi pintu itu
tidak bisa terbuka! pintunya terkunci dari luar!. “Bagaimana ini! Pintunya tidak bisa dibuka, sepertinya terkunci dari luar” Ucap
Chandra.
“Waduh gawat nih! Sepertinya kita harus menunggu di sini
bersama kerangka-kerangka ini sampai ada yang membukakan pintunya” Kataku dengan cemas. “Apa?! Kita harus menunggu di
sini bersama semua ini! Tidak! Tidak mau!” Ucap Chandra marah.
“Kenapa
tidak mungkin?” Tanyaku. “Karena mungkin saja mereka bisa
hidup dan membunuh kita!” Jawab Chandra terengah-engah. Tak
lama kemudian kami terkagetkan oleh suara yang sangat keras.
Lalu kami berbalik untuk
melihatnya dan ternyata seluruh kerangka itu membawa alat musik
seperti gitar, microfound, keyboard, dan dram lalu memainkannya dan sebagiannya lagi
duduk di depannya seperti penonton yang sedang mendengarkan. Tentunya kami
berdua ikut mendengarkannya sambil menunggu pintunya dibuka.
“Wah! Asik nih ternyata mereka benar-benar hidup tapi
untungnya mereka tidak membunuh kita, melainkan mereka malah
menghibur kita dengan musik yang menyenangkan, betul?” Tanya Chandra dengan lega. “Ya..... betul! Inikan
lumayan sambil menunggu pintunya dibukakan jadi kita tidak ketakutan” Ucapku.
“Ternyata tidak semua kerangka itu menyeramkan tapi ada
juga yang menyenangkan, tapi bagaimana dengan pelajaran, guru, dan teman-teman? Pasti mereka mencari-cari kita sekarang karena kita belum
kembali juga” Tanya Chandra.
“Benar juga ya! Tapi apa dong yang bisa kita lakukan
sekarang selain menunggu dan melihat pertujukan ini” Ujarku.
“Ya sudahlah aku juga akan menunggu saja” Ucap Chandra menyesal. Kamipun menunggu sambil
menonton pertunjukan itu dengan tenang. Tak berisik. Tak
lama kemudian kami menjadi tertidur nyenyak karena terlarut oleh lagu-lagu itu.
Entah berapa lama kami berdua
tertidur tapi rasanya sangat lama sekali sampai saat kami terbangun dengan
bersamaan. “Wah gawat kita ketiduran di sini! Jam berapa sekarang? Apa sudah malam?” Tanyaku khawatir. “Aku juga tidak tau sekarang jam berapa,
kemana para kerangka itu pergi? Mereka menghilang!” Tanya
Chandra heran.
“Biarkan saja mereka menghilang yang penting sekarang
kita keluar dari ruangan ini karena pintunya sudah terbuka sekarang” Saranku. “Bagus kalau begitu ayo cepat!” Ucap Chandra
dengan gembira. Kami berdua pun pergi ke ruangan 1.
6
Ternyata di dalam ruangan 1 hanya ada benda-benda seperti
kursi, meja, papan tulis, dan lemari. Tak ada hal yang
menakutkan di sini. Mungkin semua hal yang menyeramkan sudah tidak ada lagi
sekarang dan kita sudah bebas dari hantu-hantu itu sekarang.
“Bagus! Sekarang kita sudah
selamat dari para hantu itu dan kita bisa keluar dari bangunan yang menyeramkan
ini” Ucap Chandra gembira
“Ya..... mungkin saja” Ucapku.
“Apa yang mungkin saja? Jelas-jelas kita bisa keluar dari
sini karna sudah tak ada lagi hantu yang mengganggu kita lagi” Kata Chandra sambil marah. “Memang sekarang
kelihatannya tidak ada hantu di sini tapikan mungkin saja hantunya belum muncul” Ujarku.
“Kau benar anak muda! Hantunya takan menunjukan wujudnya
sekarang” Sebuah suara yang menakutkan yang tiba-tiba datang
dengan keras. “Siapa itu? Kalau memang kau ada coba tunjukan wujudmu sekarang
juga!” Bentakku kesal.
“Ha! Ha! Ha! Ternyata kau berani jugaya! Aku tidak akan memperlihatkan wujudku sekarang anak muda
karena ini bukan waktunya, mungkin nanti bila kalian kembali lagi ke sini. Ha!
Ha! Ha!” Ucap suara itu.
“Kenapa harus nanti tidak sekarang saja! Dasar pengecut!
Hanya berani menunjukan suara saja!” Desak Chandra. “Kalian bilang aku pengecut dasar kalian anak setan!
“Enak saja kau bilang kita anak setan!
Bukannya kamu yang setan! Dasar setan bodoh” Hina Chandra kesal. “Ha! Ha! Ha! Kalian benar jugaya, tapi kalian jangan
menganggap aku pengecut dan bodoh mengerti!
Tadi kalian sudah melewati
semua rintangan yang aku berikan dan sekarang coba rintangan yang terakhir ini,
bila kalian bisa melewatinya kalian bisa keluar dari sini tapi bila tidak bisa
kalian akan tinggal di sini selamanya! Ha! Ha! Ha!” Ujar suara
itu
Seketika suara itu menghilang dari pendengaran kami dan
bersamaan dengan menghilangnya suara itu tiba-tiba semua benda menjadi
berterbangan di udara lalu satu-persatu benda-benda itu terlempar ke arah kami
berdua. Terpaksa kami berdua berlari kearah pintu dengan cepat agar tidak
terkena lemparan benda-benda itu, tapi entah mengapa kami berlari semakin jauh. Semakin jauh pula pintu itu berada. Sepertinya kita tidak dapat sampai ke pintu itu.
“Bagaimana ini? pintunya malah semakin jauh?” Tanya Chandra tergesah-gesah. “Kalau begitu terpaksa
kita harus melawan atau menahan benda-benda itu sampai habis” Ujarku.
“Semuanya?” Tanya Chandra. “Ya betul” Jawabku. “Tapikan
kita tidak punya alat untuk menahan atau melawannya? Masa harus dengan tangan
kosong!” Tanya Chandra.
“Ya..... terpaksa kita harus berkorban demi diri kita
dari pada kita harus berlari seterusnya dan tidak bisa keluar dari sini untuk
selamanya atau bagaimana kalau kita tahan dulu salah satu benda itu lalu
gunakan sebagai senjata kita” Usulku agar tidak terjebak
terus.
“Bagus juga ide kamu, ayo kita lakukan sekarang” Jawab Chandra bahagia. Kami berdua pun berhenti berlari dan menahan salah satu benda yang menuju kearah kami dan
menggunakannya sebagai senjata.
Setelah cukup lama kami menahan
serangan itu akhirnya benda-benda itu pun habis ya.... walau harus jatuh bangun dan luka-luka tapi harus bagaimana lagi tak
ada lagi cara lain yang bisa dilakukan. Semuanya selesai dan tiba-tiba suara
menyeramkan itu muncul lagi.
“Ha! Ha! Ha! Kalian benar-benar hebat! Kalian bisa
menyelesaikan semuanya dengan baik kalian benar-benar anak-anak yang tangguh
sekali, jadi, sekarang kalian bisa ke luar dari bangunan ini dan sampai ber
temu lagi anak-anak! Ha! Ha! Ha!” Ucap suara itu.
“Ya! Selamat tinggal! Mungkin kapan-kapan kami akan
kembali lagi” Teriak kami berdua bersamaan. Lalu pintu keluar pun terbuka lebar dan menyinari kami sampai membuat silau. Lalu kami keluar dengan perasaan lega.
7
“Akhirnya keluar juga dari bangunan ini” ucap Chandra
sambil menghembuskan nafas lega. “Ya benar! Tapi kenapa masih siang? Padahalkan
kita waktu di dalam sangat lama” Tanyaku heran.
“Iya juga ya, ah sudahlah! Tak usah dipikirkan, lebih
baik kita kembali ke kelas sekarang juga kalau tidak mau dimarahi oleh guru” Ujar
Chandra.
“Ayo!” Jawabku. Kami berdua pun berlari menuju kelas kami.
Kami pun sampai di pintu kelas dengan terengah-engah.
“Maaf Bu kami lama ke toiletnya!” Kataku sambil terengah-engah.
“Lama! Lama apanya! Bukannya kalian baru saja ke toiletnya, kenapa bilang lama?” Jawab Ibu Guru.
Kami pun terheran-heran kenapa bisa begini padahalkan tadi
di toilet kami lama sekali! Apa waktunya tidak berjalan sewaktu kami ke toilet?
Aku pun bertanya-tanya dalam hati.
“Ah engga ko Bu! Kami Cuma becanda aja” Alasan Chandra agar kita tidak
malu. “Ya sudah sekarang kalian duduk di tempat kalian” Ujar guru.
Lalu kami kembali ke tempat
duduk kami dan pelajaran pun dilanjutkan kembali dengan mengerjakan
tugas. Tak lama kemudian dari belakang ada yang
memegang pundakku dan secara sepontan aku pun terkejut karena baru mengalami hal yang
menyeramkan. “Hey ada apa?! Jangan terkejut ini aku Conie”
“Oh kamu Kon ku kira siapa? Bikin kaget aja” Jawabku lega. “Ya maaf akukan engak bermaksud ngagetin kamu, memangnya ada apa sih
kayanya kalian ketakutan sekali? Ceritain dong” Tanya Conie.
“Ceritanya panjaaaaaang banget! Nanti deh istirahat aku
ceritain semuanya ke kamu” Jawabku sambil mengerjakan
tugas.
Bel istirahat pun berbunyi dan kami semua keluar dari kelas. “Rian tunggu mau kemana? Katanya mau menceritakan yang
barusan!” Tanya Conie. “Oh iya! Sory aku lupa, Chan coba
kemari sebentar!” Ajakku. “Ada apa Rian? Memangil aku kemari” Tanya Chandra heran. “Coba
duduk sebentar di sini, coba sekarang kita ceritakan pengalaman menyeramkan
kita tadi waktu di bangunan lama ke Conie” Ujarku.
“Hah di bangunan lama?” Tanya Conie terkaget. “Baiklah kalau begitu tapi
dengan satu sarat, kamu jangan kasih tau ke siapa pun selain kita ya?” Ucap Chandra.
“Iya! Iya! Aku janji deh” Ucap Conie. Kami
berdua pun menceritakan semuanya ke Conie secara rinci
sampai selesai dan sampai pada akhirnya sampai ke kelas. Setelah selesai kami
bertiga pergi ke kanti untuk makan sebentar.
Bel masuk pun berbunyi tanda kami semua harus kembali ke kelas.
Setelah kami sampai di kelas Conie pun memberi saran “Bagaimana
kalau besok kita bertiga pergi ke bangunan itu lagi,
gimana?”
“Boleh saja, betulkan Chan?” Jawabku. “Iya! Iya! Betul besok kita kesana lagi soalnya kita
udah janji kita akan datang lagi untuk menantangnya bukan?” Tanya
Chandra. “Iya! Betul pokonya kita harus
berhasil mengalahkannya nanti!” Ujarku.
“Wah kalau begitu kita setuju dong
untuk pergi kesana besok?” Tanya Conie kepada kami. “Ya
kami setuju!” Jawab kami dengan tegas.
Pelajaran pun dilanjutkan kembali sampai pada akhirnya bel
pulang berbunyi. Setelah bel pulang berbunyi kami semua pulang kerumah masing-masing.
“Jangan lupa besok ya?” Tanya Conie dengan semangat.
Sepertinya Conie sangat bersemangat sekali untuk melihat hantu-hantu itu besok.
Lalu aku pulang ke rumahku dan merebahkan diri di atas
kasur karena kecapean sampai-sampai ketiduran. Karena sangat lelahnya aku tidur
sampai malam.
Aku terbangun karena
dibangunkan oleh Ibu untuk makan malam. Selesai makan malam aku kembali lagi ke
kamar untuk menyiapkan pelajaran untuk besok dan kembali tidur lagi.
8
Keesokan harinya aku terbangun dan langsung mandi karena
akan ke sekolah. Hari itu aku sangat bersemangat sekali untuk pergi ke sekolah
karena aku akan bertemu lagi dengan hantu yang menyebalkan itu nanti. Mungkin
Chandra dan Conie juga sama denganku sekarang.
Selesai mandi aku langsung memakai seragam sekolah dan
berlari ke ruang makan untuk sarapan. Selesai sarapan aku bergegas memakai
sepatu dan pergi ke sekolah.
Sesampainya di sekolah aku
mebuka pintu kelas lalu masuk dan duduk dikursi untuk menunggu Chandra dan
Conie datang. Setelah cukup lama aku menunggu akhirnya mereka datang dan
mendekatiku untuk membicarakan tentang rencana kami.
“Hai Chan! Kon! Bagai mana soal
rencana kita itu?” Tanyaku tidak sabaran. “Gini Rian bagaimana kalau kita ke sananya diwaktu
istirahat?” tanya Conie kembali. “Jangan! Jangan! Jangan diwaktu istirahat,
soalnya kalau pas istirahat banyak orang dan kita tidak bisa memastikan apakah
waktunya berjalan atau tidak sewaktu kita di dalam bangunan itu” Jawab Chandra serius.
“Bagaimana kalau begini, nanti
aku dan Chandra diwaktu pelajaran berlangsung kita minta ijin ke toilet seperti
kemarin” Saranku.
“Lalu aku bagaimana? Akukan
pingin ikut” Tanya Conie khawatir tidak di ajak. “Tenang! Kamu
juga minta ijin ke toilet setelah kita keluar, tapi jangan ditemani siapa-siapa,
mengerti?” Ujarku.
“Ya! Kami mengerti!” Jawab Chandra dan Conie serempak.
“Tapi ada satu hal lagi!” Ujarku. “Apa Rian? Apa lagi?” Tanya Chandra heran. “Begini
waktu malam aku ngantuk sekali karena lelah oleh hantu itu” Ucapku. “Terus?!” Tanya Conie tegang. “jadi aku enggak sempat ngerjain
PR, nah jadi sekarang aku liat ke kalian yah?” Tanyaku.
“Huuuuuh! Kirain apaan! Aku
juga belum” Jawab Chandra. “Kita kerjain sama-sama aja yu!” Kata Conie mengajak kami. “Boleh deh!” Jawab aku kecewa. Kami bertiga pun mengerjakannya bersama-sama dan tak lama
kemudian bel masuk berbunyi dan guru masuk ke kelas.
Pelajaran dimulai. Guru pun menjelaskan sebentar dan langsung memberikan tugas untuk di kerjakan sekarang. Pada saat itulah
aku dan Chandra meminta ijin ke toilet yang disusul oleh Conie setelah kami
berdua keluar dari kelas.
Lalu Conie menghampiri kami dan
langsung mengajak kami ke bangunan lama dengan
segera. Karena sudah tidak sabaran. Kami
telah sampai di depan pintu bangunan itu dan siap untuk masuk. Lalu kami semua
masuk ke dalam bangunan itu.
“Mana! Mana hantunya? Di sinih kan tidak ada hantu kalian berbohong ya?” Tanya
Conie menyesal. “Tunggu! mungkin kita harus ke toilet dulu baru kita akan di
takuti hantu-hantu itu” Ucapku menegaskan. “Ya betul!
Waktu itukan kita ke toilet itu dulu” Kata Chandra membantu.
“Ya sudah! Tunggu apa lagi ayo cepat
kita ke toilet itu dulu” Ucap Conie kesal karena tidak
sabar. Kami bertiga pergi ke toilet itu dulu dan buang air kecil sebentar.
9
Setelah selesai buang air kecil
seperti biasa aku mengambil air dari bak yang sama tapi di bak itu tidak ada
kerangka manusia dan tiba-tiba terdengar suara
menjerit dari toilet sebelah. “Ada apa itu? Itu sepertinya suara Conie” Tanya Chandra heran. “Ayo cepat kita lihat ke sana!
Mungkin Conie melihat hantu” Ujarku.
“Tapikan dia anak perempuan
yang berani” Ujar Chandra. “Mungkin aja dia hanya
menutup-nutupi ketakutannya dengan pura-pura berani. Ayo cepatlah” Ujarku mengajak. Lalu kami bergegas berlari ke toilet sebelah untuk melihat Conie dan kami pun sampai di tempatnya berada.
“Ada apa Con? Ada hantu ya?” Tanya Chandra. “A...a...ada kecoa menjijikan di sana” Jawab
Conie. “Ya ampu.....n! Kirain ada apa ternyata hanya kecoa”
Ejekku. “Iya masa takut sama kecoa yang kecil gitu apalagi
nanti sama hantu yang besar” Tambah Chandra mengejek.
“Aku emang gak takut sama hantu tapi aku takut
sama kecoa apalagi sama tikus” Jawab Conie. “Ya udah ayo kita keluar dari sini sekarang biar
cepat ketemu hantunya!” Ujarku mengajak. Saat kami akan
keluar dari toilet itu tiba-tiba ada gempa yang besar.
“Ada apa ini? Seperti gempa!” Tanya Conie penasaran. “Bukan! Bukan gempa! Ini goncangan
tanda hantu-hantu itu datang” Jawab Chandra. “Iya benar! ini
sama seperti pertama kali kita ke sini, setelah goncangan ini selesai akan
keluar kerangka manusia yang digantung” Ujarku menambahkan.
“Kalau begitu kita cepat-cepat keluar dari toilet ini sekarang agar cepat
ketemu sama kerangka yang ada di ruangan 4 itu” Kata Conie tak sabaran. Lalu kami keluar dari toilet itu dan saat kami membuka pintu kami teriak karena kaget melihat
sebuah kerangka yang berdiri didepan pintu dengan berpakaian hitam.
“Dasar kerangka sialan bikin
kaget aja” Kata Chandra. “Sekarang kami tidak akan takut lagi
oleh kamu!” Bentakku. “Iya benar! Sekarang minggir dari sana
sekarang juga!” Ucap Conie tegas. Tapi kerangka
itu tetap tidak mau minggir juga dari sana. Terpaksa kami bertiga mendorong
kerangka itu bersamaan lalu kerangka itu terpental dan hancur.
“Bagus kita berhasil sekarang
kita telah mengalahkannya, ayo cepat!” Kata Conie bangga. Setelah kami
melewati kerangka itu tiba-tiba kerangka itu hidup kembali. “Hei kalian! Mau
kemana kalian? Kalian tidak akan bisa lari dari aku, mengerti?!” Kata kerangka itu marah.
“Siapa yang akan lari kami akan
melawanmu! Kami hanya akan mengambil sesuatu saja ko” Jawab Conie melawan. “Ha! Ha! Ha! Kalian akan melawan
aku dengan apa?!” Ucap kerangka.
“Dengan ini kerangka bodoh!” Teriakku sambil mendorong kerangka itu bersama
Chandra dan Conie bersamaan. Setelah kerangka itu didorong dan hancur kami
langsung memisahkan semua bagiannya agar tidak dapat menyatu lagi seperti tadi.
Ada yang dimasukan kekantong
plastik, ditimpa oleh kursi, meja, lemari, dan ada yang di lempar ke toilet. Akhirnya kerangka itu pun tidak dapat hidup kembali dan kami pun sangat gembira sekali telah membunuhnya dengan
bersama-sama. Lalu kami melanjutkan ke ruangan berikutnya yaitu ruangan 3.
10
Kami telah sampai di ruangan 3
dan seperti yang waktu itu di sana ada 4 peti mati. Seperti waktu itu 2 peti vampire dan 2 lagi peti mumi. Tak
lama kemudian ke-2 peti vampire terbuka dan vampire yang berada di dalamnya
keluar dengan perlahan.
“Gawat vampirenya keluar dari
peti! Bagaimana ini?” Tanyaku gelisah. “Kita lari saja
dari sini sekarang!” Jawab Chandra. “Tunggu! Coba
lihat itu mereka menuju ke sini dan kita harus melawannya, kalau tidak dilawan kita tidak akan keluar dari
sini” Ajak Conie. “Baiklah kalau begitu kita akan lawan
kamu tunggu di siniya Con” Ucapku sambil mendekati ke-2 vampire itu bersama Chandra.
Setelah dekat dengan
vampire-vampire itu aku dan Chandra memukulnya dengan sebatang kayu tapi
vampire itu tidak merasakan apapun dan tidak menganggap kami tapi mereka terus
berjalan menuju ke arah Conie. “Conie awas mereka menuju ke arah kamu” Ujar Chandra memperiangatkan Conie.
Tapi percuma saja mereka sudah
dekat dengan Conie dan salah satunya langsung memegang Conie dan mencoba
menggigit lehernya tapi Conie menahannya dan yang satunya lagi menjaga.
“Gawat Conie bisa celaka ini! Chan
kamu selamatkan Conie dan aku akan coba mengalihkan yang satu itu” Saranku.
“Baiklah kalau begitu” Jawab Chandra. Aku pun mulai mengalihkan perhatian vampire itu dan
setelah perhatiannya terpusat kepadaku Chandra langsung berlari ke arah Conie
dan langsung menyingkirkan vampire itu dari Conie.
“Conie kamu membawa cermin
tidak?” Tanyaku. “Punya! ini ada” Jawab
Conie. “Chan cepat kamu pergi ke arah cahaya yang
berasal dari genting itu dan arahkan ke vampire yang menyerangku ini, cepatlah
aku sudah tidak tahan lagi” Ujarku menyuruh. “Baiklah!” Jawab Chandra.
Dengan cepat Chandra
mengarahkan cahaya itu ke vampire yang menyerangku. Lalu dengan cepatnya
vampire itu terbakar menjadi abu dan aku selamat. Tapi vampire yang satunya lagi mendekati Conie kembali.
“Cepat arahkan ke arah vampire
itu sekarang Chan” Ujarku. Setelah di arahkan ke
vampire itu ia langsung menjadi abu. “Huuuuuh akhirnya aku selamat juga makasih
ya” Ucap Conie.
“Ya! Tapi kita harus melawan
mumi kali ini karena mereka sudah keluar dari petinya” Ujar Chandra. “Baiklah waktunya beraksi lagi!” Ucapku sambil menuju ke arah mumi itu bersama
Chandra.
Kami sudah dekat dengan mumi
itu dan kami melawannya tapi kami tidak sanggup malah kami menjadi di cekik
oleh mumi-mumi itu. “Aaaaaah sakit! Conie cepat tolong kami sekarang” Ujar Chandra. “Baiklah tapi bagaimana caranya?” Tanya Conie.
“Sekarang cepat kamu ambil
kursi itu dan pukulkan ke arah muminya cepat!” Teriak Chandra kesakitan. Lalu Conie memukul mumi-mumi itu dan kami
selamat. “Hampir saja kita mati tercekik” Kataku.
Setelah mereka terjatuh kami
langsung menarik perban yang membalutnya sampai terbuka seluruhnya. Ternyata
yang dililiti oleh perban itu adalah kerangka dan setelah dibuka mereka
langsung mati.
Dan kami langsung menuju ke
ruangan 2 untuk menghadapi hantu-hantu yang lainnya.
11
Kami mulai masuk ke ruangan 2
disana begitu banyak kerangka-kerangka yang bergeletakan di lantai dan
sepertinya kerangka yang sekarang lebih banyak daripada yang waktu itu.
“Wah! Banyak sekali
kerangkanya, apa kita bisa menghadapinya? Kitakan Cuma bertiga disini” Tanya Conie terkejut. “Tenang
saja mereka tidak akan menyerang kita ko! Waktu itu juga mereka malah membuat sebuah
konser musik buat kita” Jawab Chandra. “Tapi itu belum
tentu! Mereka bisa saja malah sebaliknya” Ujarku.
“Kenapa bisa begitu?” Tanya Conie. “Coba sekarang kita ingat waktu di ruang
4 waktu itukan kerangkanya tidak bergerak tapi sekarang bergerak malah
menyerang kita! Begitu pula dengan ruangan 3 tadi” Jawabku. “Ya benar! Sebaiknya kita keluar dari sini
sekarang juga” Ujar Chandra.
Kami bertiga langsung menuju ke
arah pintu yang menuju ke ruangan 1 tapi seperti yang waktu itu
pintu di ruangan 1 terkunci dari luar dan kami
harus menunggu lagi seperti yang waktu itu.
“Bagaimana kalau semua kerangka
itu membunuh kita? Dan kita tamat di sini?” Tanyaku. “Mereka tak akan membunuh kita ko, paling mereka menghibur kita
lagi” Jawab Chandra. “Coba lihat itu! Mereka membuat
sebuah konser” Ujar Conie.
“Apa ku bilang mereka menghibur
kitakan! Mereka tidak mungkin membunuh kita. Kamu terlalu berlebihan” Ucap Chandra. “Tapi entah kenapa perasaanku tidak
enak sekali Chan!” Ujar ku.
“Sudahlah kalian berdua jangan
ribut terus! lebih baik kita dengarkan saja mereka bernyanyi akukan mau dengar”
Ucap Conie. “Ya betul! Sebaiknya kita menonton sambil menunggu pintunya terbuka” Ujar Chandra.
Kami mulai mendengarkan
lagu-lagu itu tapi tetap saja perasaanku tidak enak. Lagu-lagu itu memang
sangat enak. belum pernah ada lagu yang seindah itu, kami juga baru pertama
kali mendengarnya.
Tapi entah mengapa semakin lama lagu-lagu itu
di nyanyikan semakin sakit telinga kami. Sepertinya gendang telinga kami akan pecah karena suara itu. Padahal suaranya pelan
sekali tapi entah kenapa bisa begitu.
“Rian, Chan sepertinya semakin lama telingaku semakin sakit?” Tanya Conie. “Iya benar aku juga merasa
seperti itu, apa kamu merasakannya juga Rian?” Tanya Chandra. “Ya tentu saja aku merasakannya!
Sepertinya lagu-lagu ini bisa memecahkan gendang telinga kita!” Jawab ku. “Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya Conie.
“Aaaaaah! Tidak! Rasanya
telingaku ingin pecah! Sangat sakit sekali!” Teriak Chandra. “Ayo kita dobrak saja pintu ini sekarang
juga dari pada telinga kita pecah dan tidak dapat mendengar lagi” Ujarku. “Baiklah! Cepat!” Ucap Chandra.
Lalu kami mendobrak pintu itu
dengan sekuat tenaga kami semua, agar pintu itu dapat terbuka dan kami bisa bebas dari
kerangka-kerangka manusia itu.
“Siap semuanya?! Kita dobrak dalam hitungan ketiga, siap! Satu.... dua....
tiga.....! Dobraaaaak! ” perintah Chandra.
Kami semua langsung
mendobraknya dan kami bertiga berhasil membuka pintu itu. Kami langsung keluar
dari ruangan 2 dan menuju keruangan 1 dan dalam waktu beberapa detik
kerangka-kerangka dan suara itu menghilang.
“Akhirnya kita selamat juga,
apa ku bilang! Mereka bisa membunuh kita, tapi kalian malah tidak percaya” Ucapku. “Iya! Iya! Nanti aku percaya deh sama kamu!” Ujar Chandra. “Udah! Udah! Yang penting sekarang kita sudah bebas dari
semua itu, sekarang kita tinggal melewati satu ruangan lagi dan mungkin ini
yang paling berat di antara semuanya” Ujar Conie.
12
Sekarang
kami bertiga sudah berada di ruangan terakhir untuk menuju ke luar dari tempat
ini yang tidak lain adalah ruang 1 yang gelap. “Sekarang kita sudah sampai di ruang
1, tapi sepertinya tidak ada apa-apa, hanya ada tumpukan kursi, meja, papan
tulis, dan lemari yang sudah tidak terpakai saja disini” Ucap Chandra. “Ya!
Mungkin sekarang sudah bebas dan kita biasa keluar dari sini” Ujar Conie.
“Jangan
senang dulu, kitakan punya janji sama suara aneh yang waktu itu Chan?” Ujarku.
“Ah! Biarkan saja mungkin dia sudah lupa! Kita jalan aja yu” Jawab Chandra.
Lalu kami
berjalan menuju pintu keluar. Hanya beberapa langkah kami berjalan kami
mendengar suara yang besar. “Ha! Ha! Ha! Kalian memang anak-anak yang hebat!
Kalian semua bisa melewati seluruh prajuritku untuk yang ke 2 kalinya, kalian
memang hebat!” Ucap suara itu.
“Ternyata
kamu masih ada juga ya!” Bentak Chandra. “Oh! Jadi kamu yang jadi penguasa
disini?” Tanya Conie. “Ha! Ha! Ha! Ternyata kalian membawa anak perempuan
kesini ya!” Ucap suara itu. “Memangnya kenapa kamu takut, dasar setan Pengecut”
Geretakku.
“Awas
kalian! Berani menghinaku dasar anak-anak sialan! Sekarang rasakan ini dariku
untuk kalian bertiga!” Geretak suara itu. Setelah suara itu menghilang
tiba-tiba kursi dan meja yang berada di ruangan itu berterbangan kearah kami
bertiga.
“Bagaimana
ini! benda-benda itu berterbangan kearah kita, apa yang harus lakukan
sekarang?” Tanya Conie. “Begini saja gimana kalau kita tahan salah satu kursi
atau meja yang terbang kearah kita, lalu kita ambil dan gunakan sebagi penahan
seperti yang waktu itu, bagaimana?” Ujarku.
“Baiklah
kita coba Lagi” Ucap Chandra. Kami pun melakukannya dan setelah sekian lama,
benda-benda itu pun habis dan tak ada lagi yang terbang ke arah kami lagi.
“Akhirnya kita selamat juga dari serangan ini, ya! Walau pun terluka tapi lebih
baik dari pada meninggal sekarang” Ucap Conie dengan lega.
“Kamu lihat
bukan kami bisa menghindari semua ini jadi kamu tidak akan bisa membunuh kami,
mengerti!!!” Bentak Chandra. “Jadi! Sekarang tunjukan wujudmu sekarang juga
setan pengecut!” Bentakku.
“Jadi!
Kalian berani melawanku! Baiklah kalau begitu aku akan menunjukan wujud ku!” Ucap
suara itu. Tak beberapa lama kemudian didepan kami muncul asap tebal.
Lalu setelah
itu muncul sebuah sosok kerangka yang memakai jubah panjang yang berwarna biru
dan membawa sebuah senjata yang berbentuk cerurit besar dengan batangnya yang
panjang terbuat dari kayu yang dililiti dengan tangkai bunga mawar merah yang
berada paling atas.
“Sekarang kalian sudah melihat wujudku yang
sebenarnya! Namaku Reaper Blue Rose, sekarang kalian tidak akan bisa
kemana-mana! Hidup kalian akan berakhir disini!” Ucap Reaper Blue Rose.
“Kami tidak
akan meninggal disini! Kami akan melawanmu sekuat tenaga kami” Geretak Chandra.
Setelah itu Reaper Blue Rose mendekati kami dengan perlahan.
“Kalian
tidak akan bisa melawanku, karena aku lebih kuat dari kalian bertiga!” Geretak
Reaper Blue Rose. Kami merasa terdesak, kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mungkin
ini memang akhir dari hidup kami bertiga.
Tetapi tidak
lama kemudian terdengar suara yang guruh dari belakang pintu yang menuju ruang
2. Lalu keluarlah semua kerangka-kerangka manusia yang ada di ruangan 5-2 dan
berkumpul di ruangan 1.
“Mereka
semua datang kesini! Mungkin mereka juga akan membunuh kita disini” Ucap
Chandra. “Untuk apa kalian datang kesini?!” Tanya Reaper Blue Rose. “Kami
kesini untuk membantu anak-anak itu untuk keluar dari tempat ini!” Ucap
kerangka berbaju hitam.
“Apa! Kalian
mau membantu kami? Apa tidak salah?” Tanya Conie. “Untuk apa kalian membantu
anak-anak ini?!” Tanya Reaper Blue Rose. “Kami sudah tidak tahan lagi manjadi
pengikutmu terus! Kami ingin bebas dan hidup tenang!” Ujar kerangka berbaju
hitam.
“Ha! Ha! Ha!
Kalian tidak akan bisa melawanku! Melawan anak kecil saja tidak bisa! Apa lagi
melawanku!” Ujar Reaper Blue Rose. “Jangan meremehkan kami Reaper Blue Rose!
Kami akan menunjukan kekuatan yang sebenarnya untuk melawanmu!” Ucap kerangka
berbaju hitam.
“Terima kasih
ya, semoga kalian menang” Dukungku. “Ayo coba perlihatkan kekuatan kalian yang
kalian banggakan itu sekarang juga!” Geretak Reaper Blue Rose.
Lalu mereka bersatu dan membentuk sebuah kerangka
yang sangat besar melebihi Reaper Blue Rose. Ia berambut panjang, kuku-kukunya
panjang, dan memiliki 4 buah tanduk yang besar.
“Sekarang
kamu sudah melihat wujudku yang sekarang ini, namaku Red Devil dan aku
akan membunuhmu dalam sekejap Reaper Blue Rose!!!” Geretak Red Devil.
“Tidak
semudah itu Red Devil! Tentu aku yang akan membunuhmu terlebih dahulu!!!” Ujar
Reaper Blue Rose. “Baiklah sekarang rasakan ini dariku!” Ucap Red Devil.
Red Devil
pun mengeluarkan sebuah bola api dari kedua buah tangannya yang semakin
membesar. Setelah besar lalu Red Devil melemparkannya kearah Reaper Blue Rose.
Ia tidak mau
menyerah. Reaper Blue Rose mencoba untuk menahan serangan itu dengan sekuat
tenaga menggunakan ceruritnya. Tetapi bola api itu tidak menghilang juga.
Sampai pada akhirnya Reaper Blue Rose tidak kuat lagi menahannya dan terkena
serangan itu.
Sampai pada
akhirnya Reaper Blue Rose pun mati dalam sekejap dan Red Devil berhasil
mengalahkan Reaper Blue Rose. Kami semua pun selamat dari maut karena berkat
pertolongan Red Devil.
“Sekarang
kalian bisa keluar dari tempat ini sekarang juga dengan tenang” Ucap Red Devil.
“Terima kasih ya, Red Devil atas bantuannya” Ucap Conie. “Tapi sekarang kamu
akan pergi kemana Red Devil?” Tanyaku.
“Sekarang
aku akan pergi ke tempat yang jauh dari tempat tinggal manusia” Ucap Red Devil.
“Kalau begitu kami pergi ya! Selamat tinggal Red Devil” Ucap Chandra. Kami
bertiga pun berjalan menuju pintu keluar.
13
Sekarang kami sudah berada di luar bangunan tua.
Kami sudah bebas dari ancaman yang hampir merenggut nyawa kami bertiga. ”Ya
ampun! Bagaimana ini?! Kita ketinggalan pelajaran” Kaget Conie. “Iya benar
pasti kita dimarahi oleh guru!” Kaget Chandra.
“Tenang saja waktu itu kan aku sama Chandra telat.
Tapi waktu yang ada di luar bangunan ini tidak berjalan” Ujarku. “Iya! benar
juga! Jadi kita tidak usah khawatir lagi” Ucap Chandra. “Tapi soal luka-luka
ini bagaimana?” Tanya Conie. “Itu sih gampang! Bilang saja tadi kita bertiga
jatuh waktu ke toilet” Ujar Chandra.
“Ayo kita ke kelas sekarang” Ujarku. Kami pun pergi
ke kelas bersama-sama. Kami sampai dikelas dan ternyata memang benar waktu di
luar bangunan itu tidak berjalan. Jadi kami selamat tidak terkena marah.
Setelah semua pelajaran selesai kami semua pulang ke
rumah masing-masing dan melakukan hal-hal yang seperti biasanya. Keesokan
harinya aku berangkat sekolah lagi dan menjalani sekolah seperti biasanya.
Di dalam bangunan itu tidak pernah ada lagi hal-hal
yang aneh dan untuk selamanya kami menjalani hari-hari sekolah dengan tentram.
TAMAT
"MISTERI SEBUAH SEKOLAH"