Minggu, 11 September 2011

"KUCING GARI & MERPATI PHETHA"


(Petualangan dua mahluk Allah yang berbeda, tapi bersahabat selamanya)
                                                                                       

Tibalah dua ekor kucing kecil jantan terlahir ke dunia, satu berwarna hitam dan satu lagi loreng hitam dan coklat. Mereka lahir di pinggiran sungai di tengah kota yang ramai. Kucing hitam itu bernama GARI dan yang loreng bernama LOTTA.
Dari pertama Gari lahir, dia tidak pernah mendapatkan keadilan dan kasih sayang dari keluarganya, dia selalu saja dipojokan oleh keluarganya. Dan kedua orang tuanya lebih sayang kepada sodaranya yaitu Lotta. Gari tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa diam di dalam keluarga itu, dan dengan hati yang selalu tersiksa.
***
Di tempat lain, di sebuah bukit di pinggir kota, menetas 3 telur burung merpati putih, yang terdiri dari dua ekor betina dan satu ekor jantan. Yang jantan bernama RIKO dan yang betina bernama PHETHA dan PHENA. Phetha, dia merpati putih yang cantik dan hatinya mudah tersinggung. Walau begitu, dia sangat sabar dan tegar dalam menjalani hidupnya yang tak jauh berbeda dari kucing Gari.
Dalam keluarganya dia diperlakukan tidak adil dan kurang mendapatkan kasih sayang dari Ibunya. Hanya Ayahnya yang sayang padanya dan selalu memanjakannya.
Tidak hanya dalam keluarga saja Gari dan Phetha di perlakukan seperti itu. Di lingkungan luar pun mereka hanya diperalat oleh teman-temannya.
***
Waktu terus berjalan dan berlalu, kini Gari pun telah beranjak dewasa dan menjadi kucing remaja yang lebih baik. Walau kini dia telah cukup dewasa, tapi hidupnya tetap tidak berubah, dia masih diperlakukan sama seperti dulu, dengan ke tidak adilan dan tanpa kasih sayang keluarga.
Di lain hari Gari merenung saat malam hari, ia merenungkan nasibnya yang sedari dulu tak berubah. Dia bertanya-tanya kenapa hidupnya harus seperti ini dan tidak seperti kucing lainnya yang hidup lebih baik dan seperti sodaranya Lotta yang selalu dimanjakan. Selintas terpikir di kepalanya “Kenapa aku tidak pergi saja dari rumah dan berkelana mencari tempat baru dan kehidupan baru yang lebih baik dari pada sekarang? Karena tidak mungkin pula ku pergi ke rumah teman-teman ku, karena pasti mereka tidak mau membantu ku. Mereka hanya membantu aku karena mereka butuh aku untuk mereka jadikan boneka”.
Semenjak malam itu, Gari selalu berpikir tentang dirinya yang mungkin lebih baik melarikan diri mencari tempat yang lebih tenang untuk dia hidup.
Selang beberapa hari dari hari itu, terjadi kesalah pahaman antara Gari dan Ibunya, dan terjadilah pertengkaran besar antara mereka berdua. Karena Gari tidak mau lama-lama ribut dengan ibunya, dia terpaksa mengalah dan menyalahkan dirinya sendiri.
Dari sinilah Gari mulai tidak sabar lagi bertahan dalam keluarganya dan dari sinilah perjalanan Gari pun dimulai. Teringat dengan pikirannya untuk pergi dari rumah, Gari mulai meyakinkan hatinya dan memantapkan tekadnya.
Tekadnya pun mulai pasti, Gari mulai mencari-cari kesempatan untuk melarikan diri dari rumahnya agar tidak ada yang tahu dia pergi.
Setelah beberapa lama Gari menunggu, kesempatan itu pun akhirnya tiba. Sodara dan Ibunya pergi entah kemana, dan ayahnya telah pergi mencari ikan di pinggiran sungai yang jauh dari rumahnya.
Gari tak membuang-buang waktu lagi, dia segera bergegas pergi dan berlari menuju arah selatan. Setelah cukup jauh dari rumahnya Gari mulai kebingungan, kemana dia harus pergi selanjutnya. Sedangkan banyak jalan yang bercabang dan dia sebelumnya tidak pernah mengelilingi kota itu.
Gari terus berjalan tanpa tahu tujuannya kemana. Di perjalanan itu dia mendapatkan cukup banyak pelajaran.
Salah satunya, saat Gari merasa lapar di tengah jalan, dia tidak tau mau kemana mencari makanan, sedangkan kalau di rumah dia dapat makan dengan mudah karena sudah ada makanan yang disediakan oleh ibu atau pun ayahnya setiap hari. Dari kejauhan Gari melihat sebuah toko makanan kecil. Perutnya mulai miscal-miscal makin keras. Gari sudah tidak bisa menahan lagi rasa laparnya, dan dia terpaksa harus mengambil makanan secara sembunyi-sembunyi.
Sesampainya di toko dia masuk pelan-pelan dan mencoba mengambil makanan yang ada di atas meja. Saat dia akan mengambil makanan yang ada di atas meja, tiba-tiba pemilik toko datang dan memukulnya dengan sapu. Gari pun terlempar lalu jatuh dengan keras dan  merasa kesakitan karena pukulan tepat pada perutnya yang lapar.
Gari langsung berlari sekencang-kencangnya dengan menahan rasa sakit di dadanya. Setelah beberapa jauh dari toko itu Gari berhenti sejenak dan berbaring karena lelah dan sakit yang tak tertahankan.
***
Sementara itu di rumah Gari, Ibu dan Lotta telah pulang, mereka tidak melihat Gari dan mengira kalau dia pergi dengan Ayahnya mencari ikan. Tak kunjung lama Ayahnya tiba dengan membawa ikan. Lotta dan Ibunya merasa heran, kenapa Gari tidak ada bersama Ayahnya.
Lalu Lotta bertanya kepada Ayahnya “Mana Gari? Kenapa Ayah tidak bersamanya?”
“Ayah memang tidak bersama dia, bukannya dia tinggal di rumah semenjak tadi?” Jawab Ayah.
“Tidak ada Ayah! Gari tidak ada di rumah dari semenjak kami pulang tadi, Ibu kira dia dengan ayah!” Lanjut Ibu.
“Apa??? Tidak ada??” Hentak Ayah kaget. Lotta dan Ibunya hanya menganggukan kepala.
“Cepat kita cari dia!!!” Hentak Ayah.
Mereka mulai mencari Gari bersama kesekitar rumah. Berjam-jam mereka mencarinya, tapi tak juga ketemu. Mereka menyerah untuk mencari Gari karena tidak tahu harus mencarinya kemana lagi. Ibunya terus menangis dan menyalahkan dirinya sendiri karena kesalahan yang dilakukannya sebelum Gari melarikan diri.
***
Kembali ke Gari, setelah dia merasa sedikit lebih baik, Gari kembali berjalan dengan menahan rasa sakit yang masih tersisa dan lapar yang makin menjadi. Tibalah dia di sebuah gang kecil yang kotor, dia melihat se’ekor kucing yang sedang mencari makan dalam tempat sampah yang kotor dan benar-benar bau busuk.
Dari sini Gari sadar bahwa masih lebih baik tingggal di rumah dari pada di dunia luar yang nyatanya lebih sulit tuk hidup. Bahkan tuk mencari makan pun harus mengambil makanan sisa.
Terpaksa Gari harus mencari makan di tempat sampah itu. Gari pun mencoba mendekati kucing liar itu tuk meminta makanan.
“Permisi, apa saya boleh ikut mencari makan disini?” Tanya Gari dengan sopan.
“Siapa  kau???!!! Ini wilayah ku!! Pergi kau dari sini, atau ku bunuh kau!!!” Sentak kucing liar itu. Gari terhentak kaget dengan sentakan kucing liar itu. Gari bergegas pergi karena dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
Gari mulai berfikir, bahwa ternyata selain dalam keuarga, tidak ada yang lebih menyayanginya, ternyata seburuk apapun keluarga, disana tempat kasih sayang yang tulus dan yang terbesar.
***
Sementara itu sesuatu telah terjadi di tempat Phetha berada. Saat Phetha tengah kembali dari bermain dengan teman-temannya dia diberi tahu oleh Ayahnya, bahwa Ia harus pergi ke suatu tempat yang jauh untuk jangka waktu yang cukup lama.
 Di situlah Phetha sangat terpukul, dia tidak tau lagi apa yang akan terjadi bila Ayahnya pergi dan meninggalkannya. Dia tidak punya siapa-siapa lagi untuk tempatnya bersandar dari masalahnya. Sedangkan Ibunya sangat tidak peduli kepadanya. Dia lebih peduli kepada kedua sodaranya.
Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Phetha hanya bisa berharap Ayahnya cepat pulang dan dia bisa bersandar lagi kepadanya.
Ayahnya pun pergi terbang ke arah utara. Dengan hati yang berat Phetha mengizinkan Ayahnya pergi.
Mulai dari saat itulah hidup Phetha semakin tidak nyaman dan selalu ada masalah dengan Ibu dan sodara-sodaranya. Ketidak adilan, perlakuan yang menyakitkan hati, tidak dianggap dirinya,dll.
Dari situlah Phetha sadar akan nasibnya sekarang, kini dia harus hidup lebih mandiri dan mengurusi dirinya sendiri, tanpa ada orang lain yang membantunya.
***
Kini dengan perut yang semakin menjadi-jadi Gari terus berjalan dengan perlahan dan sering kali istirahat karena tak punya tenaga yang banyak tuk berjalan. Saat berada di pinggiran jalan, Gari sudah tidak punya tenaga lagi. Dia berhenti dan berbaring lemas, tak lama kemudian sebuah daging tergeletak di depannya, daging itu dibuang oleh seseorang karena sudah terlalu kenyang.
“Ya ampun, ada daging yang terbuang. Mungkin ini rezeki ku untuk ku makan” Ucap Gari dan segera memakan daging itu sedikit demi sedikit.
Telah habislah daging itu dan hanya tinggal tulangnya saja. Semangat dan tenaga Gari sudah kembali pulih seutuhnya. Kembalilah dia melangkahkan kakinya yang tanpa arah. Sambil melangkahkan kakinya dengan perlahan. Dia tersadar, bahwa rumah dan keluarga adalah tempat berkumpulnya kasih sayang yang terbesar dan tanpa pamrih. Gari mulai berfikir untuk kembali ke rumahnya lagi, tapi dia merasa malu dan takut bila harus kembali lagi. Lagipula kini dia sudah tersesat dan tidak tau ada dimana.
Terpaksalah dia harus berjalan lagi ke arah Selatan. Kini dia mengambil jalan yang lurus dan tidak berbelok-belok agar tidak tersesat lagi. Meski pun Gari mengambila jalan yang lurus, tapi tidak nasibnya yang lurus pula. Banyak kejadian buruk yang menimpanya lagi.
Dikejar oleh anjing-anjing liar, hampir tertabrak mobil, terkena cipratan air kotor, dan hambatan-hambatan lainnya yang ditimbulkan oleh manusia dan kecerobohannya sendiri.
Seperti pepatah yang mengatakan, bahwa di setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Dari kejadian buruk ini pun Gari mendapatkan pelajaran, bahwa dunia luar tak seindah yang dia bayangkan, dia harus menjaga dirinya sendiri agar tetap bertahan hidup. Karena sekejam-kejamnya ibu, masih lebih kejam dunia luar.
Telah beberapa hari Gari berjalan, sampailah dia di sebuah bukit di pinggiran kota yang bersih dan sejuk semerbak wewangian bunga dan dengan pemandangan hijau yang memanjakan mata.
“Waaahh….! Akhirnya aku menemukan tempat yang bagus untuk aku tinggal sekarang. Ternyata tidak sia-sia perjuangan ku selama ini.” Ujar Gari dengan hatinya yang sudah tenang.
Gari pun naik ke bukit itu dan beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang, yang membuatnya nyaman untuk beristirahat.
***
            Sementara itu terjadi sesuatu di tempat tinggal burung Phetha, yang ada di bukit itu. Sebuah pertengkaran terjadi antara Phetha dan Ibunnya. Pertengkaran itu terjadi karena Phetha sudah tidak tahan lagi diperlakukan tidak adil dan selalu disalahkan meskipun itu bukan kesalahannya.
Karena sudah tidak tahan lagi, dia berontak dan mengeluarkan semua isi hatinya selama ini yang terpendam rapat itu dihadapan Ibunya. Dengan isak tangis Phetha mengungkapkan kepada Ibunya. Ibunya hanya bisa diam mematung tanpa kata karena dia merasa salah.
Setelah seluruh sesal di hatinya dia ungkapkan, Phetha tanpa berpikir panjang langsung terbang dengan air matanya yang masih bercucuran.
Cukup lama Phetha terbang dengan tangisannya, ia pun mulai merasa lelah dan memutuskan untuk beristirahat sejenak. Phetha pun mulai turun dengan perlahan.
Sampailah ia di bawah dan beristirahat dimana Gari pun sedang beristirahat di tempat yang sama. Dengan isak tangisnya yang masih tersisa, Phetha merenung dan memikirkan Ayahnya yang telah lama pergi tak kunjung pulang.
“Aku rindu sekali dengan Ayah. Bagaimana ya kabarnya sekarang? Apa dia baik-baik saja? Sedang apa dia sekarang?” Phetha bertanya-tanya dalam hatinya dengan kerinduan yang dalam.
Saat Phetha masih terdiam dengan isak tangisnya, dari kejauhan Gari melihanya. Saat itu perut Gari sedang lapar karena telah menempuh perjalanan yang sangat jauh. Gari berniat untuk memakannya karena dia sudah lapar sekali walau pun sebelumnya ia belum pernah berburu burung apalagi memakannya.
Gari pun mulai mendekati phetha dengan perlahan-lahan agar dia tidak terbang. Setelah jaraknya cukup dekat, Gari berlari sekencangnya dan langsung menerkam Phetha.
Phetha pun terhentak kaget dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi karena dia sedang lemas dan sedih. Saat Gari akan memakan Phetha, sejenak dia menatap wajahnya. Gari merasa kasihan melihat Phetha, karena dia terlihat sangat sedih dan tengah menangis. Gari pun mengurungkan niat untuk memakan Phetha.
Gari perlahan mengangkat kakinya yang menginjak Phetha dan bertanya “Kenapa kamu menangis? Apa karena aku?” Tanya Gari penasanran.
“Bukan, ini bukan salahmu. Kamu tak perlu tau masalah ku. Makan saja aku sekarang” Jawabnya dengan terisak-isak.
“Tidak, aku tidak akan memakanmu, aku tidak tega melihatmu. Lagi pula aku belum pernah memakan merpati sepertimu sebelumnya, ku hanya terpaksa melakukan ini. Ayolah. . .ceritakan kepadaku apa yang membuatmu menangis seperti ini? Mungkin aku bisa membantu.” Ujar Gari dengan membujuk Phetha agar mau bercerita.
“Tidak usahlah aku bercerita kepadamu, lagi pula kamu tidak akan mengerti. Lebih baik kamu pulang saja dan tinggalkan aku sendiri.”
“Pulang?? Aku kabur dari rumah sejak beberapa hari yang lalu. Aku tidak mungkin pulang, ku sengaja pergi dari rumah tuk mencari kehidupan yang baru. Aku bosan di rumah terus-menerus.” Ucap Gari dengan sedikit bercerita kepada Phetha, agar dia juga mau bercerita kepadanya.
“Kau kabur dari rumah??!!” Tanya Phetha kaget dan heran.
“Ya…benar!” Gari mengangguk.
“Sebenarnya…….ku juga kabur dari rumah. Karena aku sudah tidak tahan lagi tinggal disana.” Jawab Phetha dengan muram.
“Kalau begitu sama dong!! Ku kabur dari rumah karena aku merasa diperlakukan tidak adil disana. Ibu dan Ayah hanya membela sodaraku dan selalu menyalahkan ku, walau sebenarnya itu bukan kesalahanku.”
“Begitukah??? Aku pun begitu sama sepertimu, selalu diperlakukan tidak adil dan selalu disalahkan dengan kesalahan orang lain. Kenapa bisa kebetulan seperti ini ya?”
“Entahlah! Ku juga heran kenapa nasib kita bisa sama seperti ini. Oya, nama kamu siapa? Aku Gari, dari pinggiran sungai yang ada di tengah kota” Dengan muka Gari yang tersenyum.
“Wow..!! Jauh sekali rumahmu. Aku Phetha, dari bukit ini. Kamu sendirian sampai sini?” Tanya Phetha dengan muka yang kini sudah sedikit senang.
“Ya, ku sendiri! Tujuanku untuk berkelana mencari kehidupan baru yang lebih nyaman. Terus sekarang kamu mau kemana?” Tanya Gari.
“Entahlah, ku tak tau. Ku kabur dari rumah tanpa tujuan.” Phetha memasang kembali wajah yang muram.
“Bagaimana kalau kamu ikut aku saja? Daripada kamu tak punya tujuan lebih baik kita mencari kehidupan yang lebih tenang! Gimana?” Ajak Gari dengan semangat.
“Benarkah ku boleh ikut denganmu???” Tanya Phetha riang.
“Ya, benar! Itu pun kalau kamu mau…”
“Mau banget……” Phetha setuju dengan wajah yang kembali ceria.
“Kalau begitu kita mencari makan dulu yuk? Perutku lapar ni..”
“Boleh aja, kebetulan ku juga lapar. Aku juga tau dimana kita bisa mendapatkan makanan, untuk ku dan kamu.” Ujar Phetha.
Mereka pun mulai pergi ke tempat yang ditunjukan oleh Phetha. Phetha naik di punggung gari, dan Gari terus berjalan menuruti apa kata Phetha sambil berbincang-bincang.
Dari sinilah persahabatan mereka dimulai. Persahabatan dua mahluk Allah yang berbeda. Perbedaan itu bukanlah suatu penghalang bagi kita untuk menjalin sebuah persahabatan yang baik. Meskipun berbeda kita tetaplah satu.
Tibalah mereka disebuah rumah kecil di tengah bukit itu. Tempatnya sejuk dan tenang. Ternyata rumah itu adalah rumah seorang wanita yang baik hati yang tinggal sendiri. Wanita itu sangat menyayangi hewan-hewan yang ada di bukit itu. Maka dari itulah Phetha mengajak Gari ke tempat itu untuk meminta makan, karena sebelumnya dia sering meminta makan pada wanita itu.
Keluarlah wanita itu dari balik pintu. Wanita itu menyapa dengan baik kehadiran Gari dan Phetha dengan senyumannya yang indah.
“Wah……ternyata kamu merpati kecil. Kamu membawa teman baru ya? Kucing kecil yang lucu. Sepertinya kalian lapar? Tunggu sebentar ya, aku ambilkan makanan dulu” Ujar wanita itu dengan ramah, dan ia langsung masuk kedalam rumah mengambil makanan untuk mereka berdua.
Tak lama mereka menunggu, keluarlah wanita itu dari rumah dengan membawa sepiring nasi dan ikan.
“Ini..! aku hanya punya ini untuk kalian, mungkin kalian suka. Makanlah!” Wanita itu menyimpan makanannya di depan Gari dan Phetha. Gari pun memakan ikan dengan lahap dan Phetha memakan nasinya satu persatu.
Meski pun hanya makan makanan yang sederhana dan apa adanya,bila makan bersama-sama akan terasa lebih enak dan asik.
“Kalian lucu sekali. Lapar sekali ya?” Tatap wanita itu dengan senyumnya melihat Gari dan Phetha.
Nasi dan ikan pun telah habis ludes dimakan, lalu mereka berhenti sejenak dan bermain-main dulu dengan wanita itu {Agar tidak terlalu SMP(Sudah Makan Pulang)}. Cukup lama mereka bermain-main dengan gembira, mereka pun mulai kelelahan dan berhenti bermain.
Kin hari telah beranjak menjadi gelap perlahan-lahan. Gari dan Phetha pun pergi dari rumah itu dan mencari tempat untuk tidur malam ini, karena tidak mungkin rasanya tidur di rumah wanita itu. Telah sekian lama mereka berjalan, mereka menemukan sebuah pohon yang besar dan di bagian bawah pohon itu terdapat lubang yang cukup besar yang cukuplah untuk mereka berdua tidur malam ini. Mereka lalu masuk ke dalam pohon itu karena hari sudah semakin gelap dan mereka sudah mulai mengantuk dan langsung tidur.
***
Saat mereka tertidur lelap, tiba-tiba hujan turun cukup deras dan membasahi seluruh bukit itu. Tapi Gari dan Phetha tetap tertidur lelap karena begitu lelahnya.
Begitu pula di tempat gari tinggal, turun hujan yang sangat deras membasahi seluruh kota. Air sungai pun meluap dan arusnya kencang, keluarga Gari yang berada di pinggiran sungai pun terbawa hanyut beserta Orang tua Gari dan Lotta juga. Mereka semua mati dan Gari tidak mengetahui hal itu terjadi.
***
Matahari mulai terbit kembali, Gari dan Phetha beranjak dari tidurnya dan menuju sungai yang ada di bukit itu lalu membasuh tubuh mereka sekaligus minum. Setelah selesai, mereka berdiam diri sejenak untuk memikirkan akan pergi kemana mereka selanjutnya.
Setelah lama berpikir, akhirnya Phetha unjuk bicara, dia mengajak Gari untuk pergi mencari Ayahnya.
“Ri, bagaimana kalau kita mencari Ayahku saja?? Aku rindu sekali padanya, sudah lama aku tidak bertemu dengannya.” Ajak Phetha.
“Memang Ayahmu kemana…?” Tanya Gari penasaran.
“Ayahku pergi entah kemana, ku ingin sekali bertemu dengan dia”
“Begitu ya! Baiklah kalau begitu, kita pergi mencari Ayahmu. Tapi, kita akan mencarinya kemana???”
“Ayahku pergi ke arah utara, tapi ku tidak tau kemana tujuannya” Phetha memasang wajah murung.
“Utara???!!!” Tanya Gari Kaget.
“Ya. Utara! Emangnya kenapa kalau ke arah utara?? Apa ada masalah??”
“Tidak juga, hanya saja rumahku ada disana. Tapi tidak apalah, kita pergi saja! Lagi pula belum tentu mereka masih ada disana dank u juga sudah lupa jalannya” Wajah Gari sedikit murung.
“Benarkah itu?? Kamu mau menemaniku mencari Ayah??” Tanya Phetha  dengan senang. Gari pun menganggukan kepalanya tanpa bicara sedikit pun dan dengan wajah yang muram.
“Terimakasih banyak ya Ri!! Kamu memang sahabatku yang baik!!” Teriak Phetha girang.
“Ya….. sama-sama. Kalau begitu kita tak usah buang-buang waktu lagi, kita berangkat saja sekarang” Ajak Gari dengan menyembunyikan kesedihannya.
“Baiklah…!!!” Ujar Phetha.
Mereka pun berangkat menuju arah utara. Langkah demi langkah Gari berjalan dan Phetha berada di punggungnya. Telah lama mereka berjalan, dan akhirnya mereka pun keluar dari bukit itu.
Perjalanan mereka yang sebenarnya akan dimulai dari sini, di tengah kota yang besar dan penuh dengan bahaya. Mereka berhenti sejenak untuk menentukan jalan mana yang harus mereka ambil. Setelah sekian lama berpikir akhirnya mereka menemukan jalan yang akan dilalui untuk pergi ke utara. Mereka memilih jalan kecil yang tidak banyak orang dan kendaraan agar lebih aman.
Saat mereka sedang berjalan, tiba-tiba ada seekor kucing lapar yang menghadang mereka secara tiba-tiba. Gari dan Phetha terhentak kaget karena melihat seekor kucing loreng yang kelihatannya galak yang tiba-tiba muncul.
Ternyata kucing liar itu ingin memakan Phetha karena tengah lapar dan tidak ada makanan lain. Tapi, Gari menghalanginya dan melindungi Phetha agar tidak di makan oleh kucing liar itu. Kucing liar itu tetap berusaha keras untuk memakan Phetha, dan Gari terus menjaga Phetha hingga pada akhirnya mereka berkelahi. Perkelahian itu berlangsung cukup lama, Gari dan kucing liar itu telah terluka cukup parah. Tapi diantara mereka tidak ada yang mau menyerah, sampai pada akhirnya mereka merasa kelelahan, kucing liar itu pun pergi karena tidak kuat lagi untuk berkelahi dengan Gari lagi, begitu pula dengan Gari, terdiam lelah dan penuh luka cakaran dan gigitan.
“Kamu tidak apa-apa kan Ri??” Tanya Phetha dengan ketakutan.
“Tidak, tidak apa-apa ko, Cuma luka ringan saja”
“Luka ringan dari mana! Kamu penuh luka seperti ini!! Kenapa sih kamu bela-belain nolongin aku sampai ngorbanin diri kamu segala??!!”
“Kamukan sahabatku, mana mungkin aku membiarkan sahabatku sendiri celaka!”
“Tapikan tidak perlu sampai mengorbankan dirimu sendiri!!” Phetha mulai mengeluarkan air mata harunya.
“Sudahlah, tidak apa-apa! Lagi pula sudah lewat ini, yang penting kamu tidak apa-apa!”
“Makasih ya…! Kamu baik sekali padaku. Kalau begitu kita istirahat dulu ya, sampai lukamu sembuh”
“Baiklah!” Ujar Gari lemas.
Mereka pun beristirahat di tempat itu selama beberapa hari. Setiap hari Phetha yang mencarikan makan untuk Gari dan untuk dirinya sendiri karena Gari tidak kuat untuk berjalan.
Selama dua hari mereka beristirahat di tempat itu, dan Phetha terus merawat Gari. Kini Gari mulai pulih dan mampu untuk berjalan.
“Sepertinya ku sudah kuat tuk melanjutkan perjalanan kita lagi” Ujar Gari.
“Benar kamu sudah kuat tuk lanjutkan perjalanan kita lagi??” Tanya Phetha.
“Ya…! Kurasa begitu”
“Baiklah kalau itu maumu”
Mereka berdua melanjutkan kembali perjalanan itu. Berhari-hari mereka terus berjalan mencari Ayah Phetha yang pergi dari rumah. Berbagai peristiwa telah mereka hadapi bersama, dari mulai susahnya mencari makan, melawan kucing dan anjing liar, menghadapi kejamnya dunia liar yang katanya lebih kejam dari Ibu tiri, serta melalui rumah Gari yang berada di pinggiran sungai di tengah kota.
“Gari,lihat! Ada sungai besar, kita bisa minum dan istirahat disana sejenak” Ujar Phetha dengan riang.
“Ya… ku tahu itu, disana tempat tinggalku. Dulu…..” Phetha mengeluarkan raut wajah yang sedih.
“Benarkah itu rumahmu??? Kalau begitu mari kita kesana!! Ayo…” Ajak Phetha dan terbang menuju sungai itu, tapi ia berhenti dan kembali lagi ke Gari yang terdiam.
“Ada apa Ri? Apa kau tak mau melihat keluargamu?” Tanya Phetha.
“Tidak, ku tak mau pulang! Ku sudah terlanjur pergi dari rumah, dan percuma bila ku pulang, mereka takan menganggapku dan tak pedulikan ku seperti dulu” Jawab Gari dengan raut wajah yang memelas.
“Janganlah kau begitu Ri, bagaimana pun mereka tetap keluargamumu. Lagi pula itukan dulu, mungkin sekarang mereka telah berubah dan sadar akan kesalahan mereka” Rayu Phetha agar Gari mau bertemu dengan keluarganya.
“Begitukah??? Lalu, bagaimana dengan ibumu?? Bukankah kau juga sama seperti ku, tak ingin bertemu dengannya???” Gari mencoba memutar balikan pembicaraan.
“Ya, mungkin itu benar, tapi dia tak pernah pedulikanku, dan ini lain Phetha, mereka pasti ingin bertemu kamu!!”
“Memangnya Ibumu tak mau bertemu denganmu lagi??? Dia juga ingin bertemu kamu…!! Bagamana pun dia Ibumu” Gari memutar balikan keadaan.
“Ok,,Ok,,!! Ku akui itu, tapi ku ingin bertemu dengan Ayahku itu sebabnya ku pergi, sekarang ku mohon kamu mau bertemu dengan keluargamu” Ajak Phetha kembali.
“Baiklah kalau kamu memaksaku, tapi hanya sebentar dan kita langsung pergi lagi mencari ayahmu”
“Baiklah asalkan kamu mau bertemu dengan mereka” Phetha tersenyum bahagia.
Mereka mendekati sungai itu dan Gari diikuti Phetha menuju tempat dimana keluarga Gari tinggal. Setelah Gari sampai di tempat itu, ia terhentak kaget. Keluarganya tidak ada disana, dan tempat itu benar-benar kosong. Hanya sisa-sisa kardus yang berantakan rata dengan tanah.
“Gari, mana rumah dan keluargamu? Kenapa nggak ada?” Tanya Phetha penasaran.
“Mereka…mereka pergi Tha….. mereka tinggalkan aku sendiri. Sekarang ku tak punya siapa-siapa lagi” Perlahan Gari mengeluarkan air mata sambil menunduk.
“Tenanglah Ri, kamu masih punya aku disini. Aku akan selalu ada dekatmu sebagai sahabatmu” Phetha mencoba menenangkan Gari.
“Terimakasih….. ku percaya itu. Lebih baik sekarang kita mengambil minum dan segera pergi lagi, ku tak mau lama-lama disini” Ujar Gari dengan sedikit rasa sesal.
Mereka mengambil air minum dan membasuh diri mereka yang kotor. Mereka bergegas pergi dari tempat itu karena Gari tak mau lama-lama berada disana. Setelah beberapa meter dari rumahnya, Gari menengok ke belakang melihat rumahnya tuk terakhirkalinya.
Berhari-hari Gari melangkahkan kakinya dengan semangat dan tekad yang kuat tuk bertemu dengan Ayah Phetha. Dan dengan hambatan-hambatan yang selalu ada bergantian mereka tetap tidak menyerah tuk terus berjuang demi tujuan yang harus dicapai.
Dengan 5L (Lemah, Letih, Lesu, Lunglai, dan Lapar) mereka akhirnya sampai di sebuah hutan kecil yang cukup jauh dari kota. Mereka masuk ke dalam hutan itu tanpa rasa takut akan segala yang ada di dalamnya. Perasaan Phetha mengatakan bahwa Ayahnya ada dalam hutan itu dan sedang menunggunya.
Setelah cukup dalam mereka masuk ke dalam hutan itu, mereka menemukan sebuah lapang hijau yang luas dengan danau yang jernih, beserta hewa-hewan liar yang hidup tentram.
Dari kejauhan Phetha melihat Ayahnya yang sedang bertengger di atas sebuah pohon besar.
“Gari, lihat!!! Itu Ayahku…..!!!” Teriak Phetha dengan hati yang sangat senang.
“Dimana??? Aku tidak melihatnya!” Tanya Gari penasaran.
“Itu…di atas pohon yang besar itu!!”
“Itukah Ayahmu…?? Baguslah kalau begitu, akhirnya kamu bisa bertemmu dengannya. Ayo kita hampiri dia!”
“Ayo…..”
Gari mendekati pohon besar dimana Ayah Phetha berada. Kini mereka telah sampai di bawah pohon itu, Phetha memanggil Ayahnya. Ayahnya pun melihat ke arah Phetha. Tapi, saat Ayahnya akan turun menghampiri Phetha dan Gari. “Dooooorrrrr!!!!!” Suara senapan yang keras terdengar dan seketika mengenai Ayahnya Phetha.
“Ayaaaaahhhhh……!!!!!” Teriak Phetha dengan histeris.
Ternyata ada seorang pemburu yang rupanya sudah mengincar Ayahnya sejak tadi. Phetha menghampiri Ayahnya yang terjatuh dengan air mata yang bercucuran.
“Ayaaaah… jangan tinggalin Phetha…! Bangun Ayah….bangun…..” Phetha mengeluarkan air mata yang berlinang.
Gari kesal sekali ke pemburu itu karena telah membunuh Ayah Phetha. Ia berlari ke arah pemburu itu dan menerkamnya.
“Dasar pemburu sialan…!!!!!” Teriak Gari sambil mencengkramnya dengan sekuat tenaga.
Karena Gari hanya kucing kecil biasa, pemburu itu melemparkan Gari dan tanpa rasa kasihan ia langsung menembak Gari dua kali berturut-turut. Gari mengeong keras karena kesakitan dan ia mati seketika itu juga.
“Gari……!!!” Teriak Phetha melihat Gari di tembak berkali-kali, ia langsung terbang menghampirinya.
“Gari…jangan tinggalin aku juga…! Ku tak punya siapa-siapa lagi selain kamu” Phetha menangis terisak-isak. Phetha sangat sedih dan lekas terbang menyelamatkan dirinya. Tapi sayang, sunguh disayangkan, seperti Ayahnya dan Gari ia pun ditembak pula oleh pemburu itu dan mati.
Akhirnya Gari berhasil menjalankan misinya mengantarkan Phetha kepada Ayahnya, dan Phetha akhirnya bertemu dengan Ayahnya, walau mereka bertiga akhirnya harus mati dan damai di alam sana.
Bila kita berjuang terus dengan sekuat tenaga, kita pasti mendapatkan apa yang kita capai. Dan persahabatan akan selalu ada saat duka maupun suka, dan akan mengantar kita untuk mencapai impian kita.
Terus bekerja keras untuk mencapai impian dan ikatlah erat-erat tali persahaban, dan jangan lupakan keluarga kita, sebagaimana pun kejamnya keluarga. Karena hanya dalam keluargalah kita dapatkan kasih sayang yang sebenarnya.

TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar