(Petualangan dua
mahluk Allah yang berbeda, tapi bersahabat selamanya)
Tibalah
dua ekor kucing kecil jantan terlahir ke dunia, satu berwarna hitam dan satu
lagi loreng hitam dan coklat. Mereka lahir di pinggiran sungai di tengah kota
yang ramai. Kucing hitam itu bernama GARI dan yang loreng bernama LOTTA.
Dari
pertama Gari lahir, dia tidak pernah mendapatkan keadilan dan kasih sayang dari
keluarganya, dia selalu saja dipojokan oleh keluarganya. Dan kedua orang tuanya
lebih sayang kepada sodaranya yaitu Lotta. Gari tidak bisa melakukan apa-apa
dan hanya bisa diam di dalam keluarga itu, dan dengan hati yang selalu
tersiksa.
***
Di
tempat lain, di sebuah bukit di pinggir kota, menetas 3 telur burung merpati
putih, yang terdiri dari dua ekor betina dan satu ekor jantan. Yang jantan
bernama RIKO dan yang betina bernama PHETHA dan PHENA. Phetha, dia merpati
putih yang cantik dan hatinya mudah tersinggung. Walau begitu, dia sangat sabar
dan tegar dalam menjalani hidupnya yang tak jauh berbeda dari kucing Gari.
Dalam
keluarganya dia diperlakukan tidak adil dan kurang mendapatkan kasih sayang
dari Ibunya. Hanya Ayahnya yang sayang padanya dan selalu memanjakannya.
Tidak
hanya dalam keluarga saja Gari dan Phetha di perlakukan seperti itu. Di
lingkungan luar pun mereka hanya diperalat oleh teman-temannya.
***
Waktu
terus berjalan dan berlalu, kini Gari pun telah beranjak dewasa dan menjadi
kucing remaja yang lebih baik. Walau kini dia telah cukup dewasa, tapi hidupnya
tetap tidak berubah, dia masih diperlakukan sama seperti dulu, dengan ke tidak
adilan dan tanpa kasih sayang keluarga.
Di
lain hari Gari merenung saat malam hari, ia merenungkan nasibnya yang sedari
dulu tak berubah. Dia bertanya-tanya kenapa hidupnya harus seperti ini dan tidak
seperti kucing lainnya yang hidup lebih baik dan seperti sodaranya Lotta yang
selalu dimanjakan. Selintas terpikir di kepalanya “Kenapa aku tidak pergi saja
dari rumah dan berkelana mencari tempat baru dan kehidupan baru yang lebih baik
dari pada sekarang? Karena tidak mungkin pula ku pergi ke rumah teman-teman ku,
karena pasti mereka tidak mau membantu ku. Mereka hanya membantu aku karena
mereka butuh aku untuk mereka jadikan boneka”.
Semenjak
malam itu, Gari selalu berpikir tentang dirinya yang mungkin lebih baik
melarikan diri mencari tempat yang lebih tenang untuk dia hidup.
Selang
beberapa hari dari hari itu, terjadi kesalah pahaman antara Gari dan Ibunya,
dan terjadilah pertengkaran besar antara mereka berdua. Karena Gari tidak mau
lama-lama ribut dengan ibunya, dia terpaksa mengalah dan menyalahkan dirinya
sendiri.
Dari
sinilah Gari mulai tidak sabar lagi bertahan dalam keluarganya dan dari sinilah
perjalanan Gari pun dimulai. Teringat dengan pikirannya untuk pergi dari rumah,
Gari mulai meyakinkan hatinya dan memantapkan tekadnya.
Tekadnya
pun mulai pasti, Gari mulai mencari-cari kesempatan untuk melarikan diri dari
rumahnya agar tidak ada yang tahu dia pergi.
Setelah
beberapa lama Gari menunggu, kesempatan itu pun akhirnya tiba. Sodara dan Ibunya
pergi entah kemana, dan ayahnya telah pergi mencari ikan di pinggiran sungai
yang jauh dari rumahnya.
Gari
tak membuang-buang waktu lagi, dia segera bergegas pergi dan berlari menuju
arah selatan. Setelah cukup jauh dari rumahnya Gari mulai kebingungan, kemana
dia harus pergi selanjutnya. Sedangkan banyak jalan yang bercabang dan dia
sebelumnya tidak pernah mengelilingi kota itu.
Gari
terus berjalan tanpa tahu tujuannya kemana. Di perjalanan itu dia mendapatkan
cukup banyak pelajaran.
Salah
satunya, saat Gari merasa lapar di tengah jalan, dia tidak tau mau kemana
mencari makanan, sedangkan kalau di rumah dia dapat makan dengan mudah karena
sudah ada makanan yang disediakan oleh ibu atau pun ayahnya setiap hari. Dari
kejauhan Gari melihat sebuah toko makanan kecil. Perutnya mulai miscal-miscal
makin keras. Gari sudah tidak bisa menahan lagi rasa laparnya, dan dia terpaksa
harus mengambil makanan secara sembunyi-sembunyi.
Sesampainya
di toko dia masuk pelan-pelan dan mencoba mengambil makanan yang ada di atas
meja. Saat dia akan mengambil makanan yang ada di atas meja, tiba-tiba pemilik
toko datang dan memukulnya dengan sapu. Gari pun terlempar lalu jatuh dengan
keras dan merasa kesakitan karena
pukulan tepat pada perutnya yang lapar.
Gari
langsung berlari sekencang-kencangnya dengan menahan rasa sakit di dadanya.
Setelah beberapa jauh dari toko itu Gari berhenti sejenak dan berbaring karena
lelah dan sakit yang tak tertahankan.
***
Sementara
itu di rumah Gari, Ibu dan Lotta telah pulang, mereka tidak melihat Gari dan mengira
kalau dia pergi dengan Ayahnya mencari ikan. Tak kunjung lama Ayahnya tiba dengan
membawa ikan. Lotta dan Ibunya merasa heran, kenapa Gari tidak ada bersama Ayahnya.
Lalu
Lotta bertanya kepada Ayahnya “Mana Gari? Kenapa Ayah tidak bersamanya?”
“Ayah
memang tidak bersama dia, bukannya dia tinggal di rumah semenjak tadi?” Jawab
Ayah.
“Tidak
ada Ayah! Gari tidak ada di rumah dari semenjak kami pulang tadi, Ibu kira dia
dengan ayah!” Lanjut Ibu.
“Apa???
Tidak ada??” Hentak Ayah kaget. Lotta dan Ibunya hanya menganggukan kepala.
“Cepat
kita cari dia!!!” Hentak Ayah.
Mereka
mulai mencari Gari bersama kesekitar rumah. Berjam-jam mereka mencarinya, tapi
tak juga ketemu. Mereka menyerah untuk mencari Gari karena tidak tahu harus
mencarinya kemana lagi. Ibunya terus menangis dan menyalahkan dirinya sendiri
karena kesalahan yang dilakukannya sebelum Gari melarikan diri.
***
Kembali
ke Gari, setelah dia merasa sedikit lebih baik, Gari kembali berjalan dengan
menahan rasa sakit yang masih tersisa dan lapar yang makin menjadi. Tibalah dia
di sebuah gang kecil yang kotor, dia melihat se’ekor kucing yang sedang mencari
makan dalam tempat sampah yang kotor dan benar-benar bau busuk.
Dari sini Gari sadar bahwa masih lebih baik
tingggal di rumah dari pada di dunia luar yang nyatanya lebih sulit tuk hidup.
Bahkan tuk mencari makan pun harus mengambil makanan sisa.
Terpaksa
Gari harus mencari makan di tempat sampah itu. Gari pun mencoba mendekati
kucing liar itu tuk meminta makanan.
“Permisi,
apa saya boleh ikut mencari makan disini?” Tanya Gari dengan sopan.
“Siapa kau???!!! Ini wilayah ku!! Pergi kau dari
sini, atau ku bunuh kau!!!” Sentak kucing liar itu. Gari terhentak kaget dengan
sentakan kucing liar itu. Gari bergegas pergi karena dia tidak bisa melakukan
apa-apa lagi.
Gari mulai berfikir, bahwa ternyata selain
dalam keuarga, tidak ada yang lebih menyayanginya, ternyata seburuk apapun
keluarga, disana tempat kasih sayang yang tulus dan yang terbesar.
***
Sementara
itu sesuatu telah terjadi di tempat Phetha berada. Saat Phetha tengah kembali
dari bermain dengan teman-temannya dia diberi tahu oleh Ayahnya, bahwa Ia harus
pergi ke suatu tempat yang jauh untuk jangka waktu yang cukup lama.
Di situlah Phetha sangat terpukul, dia tidak
tau lagi apa yang akan terjadi bila Ayahnya pergi dan meninggalkannya. Dia
tidak punya siapa-siapa lagi untuk tempatnya bersandar dari masalahnya.
Sedangkan Ibunya sangat tidak peduli kepadanya. Dia lebih peduli kepada kedua
sodaranya.
Tapi
mau bagaimana lagi, dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Phetha hanya bisa
berharap Ayahnya cepat pulang dan dia bisa bersandar lagi kepadanya.
Ayahnya
pun pergi terbang ke arah utara. Dengan hati yang berat Phetha mengizinkan
Ayahnya pergi.
Mulai
dari saat itulah hidup Phetha semakin tidak nyaman dan selalu ada masalah
dengan Ibu dan sodara-sodaranya. Ketidak adilan, perlakuan yang menyakitkan
hati, tidak dianggap dirinya,dll.
Dari
situlah Phetha sadar akan nasibnya sekarang, kini dia harus hidup lebih mandiri
dan mengurusi dirinya sendiri, tanpa ada orang lain yang membantunya.
***
Kini
dengan perut yang semakin menjadi-jadi Gari terus berjalan dengan perlahan dan
sering kali istirahat karena tak punya tenaga yang banyak tuk berjalan. Saat
berada di pinggiran jalan, Gari sudah tidak punya tenaga lagi. Dia berhenti dan
berbaring lemas, tak lama kemudian sebuah daging tergeletak di depannya, daging
itu dibuang oleh seseorang karena sudah terlalu kenyang.
“Ya
ampun, ada daging yang terbuang. Mungkin ini rezeki ku untuk ku makan” Ucap Gari
dan segera memakan daging itu sedikit demi sedikit.
Telah
habislah daging itu dan hanya tinggal tulangnya saja. Semangat dan tenaga Gari
sudah kembali pulih seutuhnya. Kembalilah dia melangkahkan kakinya yang tanpa
arah. Sambil melangkahkan kakinya dengan perlahan. Dia tersadar, bahwa rumah dan keluarga adalah tempat berkumpulnya kasih
sayang yang terbesar dan tanpa pamrih. Gari mulai berfikir untuk kembali ke
rumahnya lagi, tapi dia merasa malu dan takut bila harus kembali lagi. Lagipula
kini dia sudah tersesat dan tidak tau ada dimana.
Terpaksalah
dia harus berjalan lagi ke arah Selatan. Kini dia mengambil jalan yang lurus
dan tidak berbelok-belok agar tidak tersesat lagi. Meski pun Gari mengambila
jalan yang lurus, tapi tidak nasibnya yang lurus pula. Banyak kejadian buruk
yang menimpanya lagi.
Dikejar
oleh anjing-anjing liar, hampir tertabrak mobil, terkena cipratan air kotor,
dan hambatan-hambatan lainnya yang ditimbulkan oleh manusia dan kecerobohannya
sendiri.
Seperti pepatah yang mengatakan, bahwa di
setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Dari kejadian buruk ini pun Gari
mendapatkan pelajaran, bahwa dunia luar
tak seindah yang dia bayangkan, dia harus menjaga dirinya sendiri agar tetap
bertahan hidup. Karena sekejam-kejamnya ibu, masih lebih kejam dunia luar.
Telah
beberapa hari Gari berjalan, sampailah dia di sebuah bukit di pinggiran kota
yang bersih dan sejuk semerbak wewangian bunga dan dengan pemandangan hijau
yang memanjakan mata.
“Waaahh….!
Akhirnya aku menemukan tempat yang bagus untuk aku tinggal sekarang. Ternyata
tidak sia-sia perjuangan ku selama ini.” Ujar Gari dengan hatinya yang sudah
tenang.
Gari
pun naik ke bukit itu dan beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang, yang
membuatnya nyaman untuk beristirahat.
***
Sementara itu terjadi sesuatu di
tempat tinggal burung Phetha, yang ada di bukit itu. Sebuah pertengkaran
terjadi antara Phetha dan Ibunnya. Pertengkaran itu terjadi karena Phetha sudah
tidak tahan lagi diperlakukan tidak adil dan selalu disalahkan meskipun itu
bukan kesalahannya.
Karena
sudah tidak tahan lagi, dia berontak dan mengeluarkan semua isi hatinya selama
ini yang terpendam rapat itu dihadapan Ibunya. Dengan isak tangis Phetha
mengungkapkan kepada Ibunya. Ibunya hanya bisa diam mematung tanpa kata karena
dia merasa salah.
Setelah
seluruh sesal di hatinya dia ungkapkan, Phetha tanpa berpikir panjang langsung
terbang dengan air matanya yang masih bercucuran.
Cukup
lama Phetha terbang dengan tangisannya, ia pun mulai merasa lelah dan
memutuskan untuk beristirahat sejenak. Phetha pun mulai turun dengan perlahan.
Sampailah
ia di bawah dan beristirahat dimana Gari pun sedang beristirahat di tempat yang
sama. Dengan isak tangisnya yang masih tersisa, Phetha merenung dan memikirkan
Ayahnya yang telah lama pergi tak kunjung pulang.
“Aku
rindu sekali dengan Ayah. Bagaimana ya kabarnya sekarang? Apa dia baik-baik
saja? Sedang apa dia sekarang?” Phetha bertanya-tanya dalam hatinya dengan
kerinduan yang dalam.
Saat
Phetha masih terdiam dengan isak tangisnya, dari kejauhan Gari melihanya. Saat
itu perut Gari sedang lapar karena telah menempuh perjalanan yang sangat jauh. Gari
berniat untuk memakannya karena dia sudah lapar sekali walau pun sebelumnya ia
belum pernah berburu burung apalagi memakannya.
Gari
pun mulai mendekati phetha dengan perlahan-lahan agar dia tidak terbang.
Setelah jaraknya cukup dekat, Gari berlari sekencangnya dan langsung menerkam Phetha.
Phetha
pun terhentak kaget dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi karena dia sedang
lemas dan sedih. Saat Gari akan memakan Phetha, sejenak dia menatap wajahnya. Gari
merasa kasihan melihat Phetha, karena dia terlihat sangat sedih dan tengah
menangis. Gari pun mengurungkan niat untuk memakan Phetha.
Gari
perlahan mengangkat kakinya yang menginjak Phetha dan bertanya “Kenapa kamu
menangis? Apa karena aku?” Tanya Gari penasanran.
“Bukan,
ini bukan salahmu. Kamu tak perlu tau masalah ku. Makan saja aku sekarang”
Jawabnya dengan terisak-isak.
“Tidak,
aku tidak akan memakanmu, aku tidak tega melihatmu. Lagi pula aku belum pernah
memakan merpati sepertimu sebelumnya, ku hanya terpaksa melakukan ini. Ayolah.
. .ceritakan kepadaku apa yang membuatmu menangis seperti ini? Mungkin aku bisa
membantu.” Ujar Gari dengan membujuk Phetha agar mau bercerita.
“Tidak
usahlah aku bercerita kepadamu, lagi pula kamu tidak akan mengerti. Lebih baik
kamu pulang saja dan tinggalkan aku sendiri.”
“Pulang??
Aku kabur dari rumah sejak beberapa hari yang lalu. Aku tidak mungkin pulang,
ku sengaja pergi dari rumah tuk mencari kehidupan yang baru. Aku bosan di rumah
terus-menerus.” Ucap Gari dengan sedikit bercerita kepada Phetha, agar dia juga
mau bercerita kepadanya.
“Kau
kabur dari rumah??!!” Tanya Phetha kaget dan heran.
“Ya…benar!”
Gari mengangguk.
“Sebenarnya…….ku
juga kabur dari rumah. Karena aku sudah tidak tahan lagi tinggal disana.” Jawab
Phetha dengan muram.
“Kalau
begitu sama dong!! Ku kabur dari rumah karena aku merasa diperlakukan tidak
adil disana. Ibu dan Ayah hanya membela sodaraku dan selalu menyalahkan ku,
walau sebenarnya itu bukan kesalahanku.”
“Begitukah???
Aku pun begitu sama sepertimu, selalu diperlakukan tidak adil dan selalu
disalahkan dengan kesalahan orang lain. Kenapa bisa kebetulan seperti ini ya?”
“Entahlah!
Ku juga heran kenapa nasib kita bisa sama seperti ini. Oya, nama kamu siapa?
Aku Gari, dari pinggiran sungai yang ada di tengah kota” Dengan muka Gari yang
tersenyum.
“Wow..!!
Jauh sekali rumahmu. Aku Phetha, dari bukit ini. Kamu sendirian sampai sini?”
Tanya Phetha dengan muka yang kini sudah sedikit senang.
“Ya,
ku sendiri! Tujuanku untuk berkelana mencari kehidupan baru yang lebih nyaman.
Terus sekarang kamu mau kemana?” Tanya Gari.
“Entahlah,
ku tak tau. Ku kabur dari rumah tanpa tujuan.” Phetha memasang kembali wajah
yang muram.
“Bagaimana
kalau kamu ikut aku saja? Daripada kamu tak punya tujuan lebih baik kita mencari
kehidupan yang lebih tenang! Gimana?” Ajak Gari dengan semangat.
“Benarkah
ku boleh ikut denganmu???” Tanya Phetha riang.
“Ya,
benar! Itu pun kalau kamu mau…”
“Mau
banget……” Phetha setuju dengan wajah yang kembali ceria.
“Kalau
begitu kita mencari makan dulu yuk? Perutku lapar ni..”
“Boleh
aja, kebetulan ku juga lapar. Aku juga tau dimana kita bisa mendapatkan
makanan, untuk ku dan kamu.” Ujar Phetha.
Mereka
pun mulai pergi ke tempat yang ditunjukan oleh Phetha. Phetha naik di punggung gari,
dan Gari terus berjalan menuruti apa kata Phetha sambil berbincang-bincang.
Dari sinilah persahabatan mereka dimulai. Persahabatan
dua mahluk Allah yang berbeda. Perbedaan itu bukanlah suatu penghalang bagi
kita untuk menjalin sebuah persahabatan yang baik. Meskipun berbeda kita
tetaplah satu.
Tibalah
mereka disebuah rumah kecil di tengah bukit itu. Tempatnya sejuk dan tenang.
Ternyata rumah itu adalah rumah seorang wanita yang baik hati yang tinggal
sendiri. Wanita itu sangat menyayangi hewan-hewan yang ada di bukit itu. Maka
dari itulah Phetha mengajak Gari ke tempat itu untuk meminta makan, karena
sebelumnya dia sering meminta makan pada wanita itu.
Keluarlah
wanita itu dari balik pintu. Wanita itu menyapa dengan baik kehadiran Gari dan Phetha
dengan senyumannya yang indah.
“Wah……ternyata
kamu merpati kecil. Kamu membawa teman baru ya? Kucing kecil yang lucu.
Sepertinya kalian lapar? Tunggu sebentar ya, aku ambilkan makanan dulu” Ujar
wanita itu dengan ramah, dan ia langsung masuk kedalam rumah mengambil makanan
untuk mereka berdua.
Tak
lama mereka menunggu, keluarlah wanita itu dari rumah dengan membawa sepiring
nasi dan ikan.
“Ini..!
aku hanya punya ini untuk kalian, mungkin kalian suka. Makanlah!” Wanita itu
menyimpan makanannya di depan Gari dan Phetha. Gari pun memakan ikan dengan
lahap dan Phetha memakan nasinya satu persatu.
Meski pun hanya makan makanan yang sederhana
dan apa adanya,bila makan bersama-sama akan terasa lebih enak dan asik.
“Kalian
lucu sekali. Lapar sekali ya?” Tatap wanita itu dengan senyumnya melihat Gari
dan Phetha.
Nasi
dan ikan pun telah habis ludes dimakan, lalu mereka berhenti sejenak dan
bermain-main dulu dengan wanita itu {Agar tidak terlalu SMP(Sudah Makan
Pulang)}. Cukup lama mereka bermain-main dengan gembira, mereka pun mulai
kelelahan dan berhenti bermain.
Kin
hari telah beranjak menjadi gelap perlahan-lahan. Gari dan Phetha pun pergi
dari rumah itu dan mencari tempat untuk tidur malam ini, karena tidak mungkin
rasanya tidur di rumah wanita itu. Telah sekian lama mereka berjalan, mereka
menemukan sebuah pohon yang besar dan di bagian bawah pohon itu terdapat lubang
yang cukup besar yang cukuplah untuk mereka berdua tidur malam ini. Mereka lalu
masuk ke dalam pohon itu karena hari sudah semakin gelap dan mereka sudah mulai
mengantuk dan langsung tidur.
***
Saat mereka
tertidur lelap, tiba-tiba hujan turun cukup deras dan membasahi seluruh bukit
itu. Tapi Gari dan Phetha tetap tertidur lelap karena begitu lelahnya.
Begitu pula di
tempat gari tinggal, turun hujan yang sangat deras membasahi seluruh kota. Air
sungai pun meluap dan arusnya kencang, keluarga Gari yang berada di pinggiran
sungai pun terbawa hanyut beserta Orang tua Gari dan Lotta juga. Mereka semua
mati dan Gari tidak mengetahui hal itu terjadi.
***
Matahari
mulai terbit kembali, Gari dan Phetha beranjak dari tidurnya dan menuju sungai
yang ada di bukit itu lalu membasuh tubuh mereka sekaligus minum. Setelah
selesai, mereka berdiam diri sejenak untuk memikirkan akan pergi kemana mereka
selanjutnya.
Setelah
lama berpikir, akhirnya Phetha unjuk bicara, dia mengajak Gari untuk pergi
mencari Ayahnya.
“Ri,
bagaimana kalau kita mencari Ayahku saja?? Aku rindu sekali padanya, sudah lama
aku tidak bertemu dengannya.” Ajak Phetha.
“Memang
Ayahmu kemana…?” Tanya Gari penasaran.
“Ayahku
pergi entah kemana, ku ingin sekali bertemu dengan dia”
“Begitu
ya! Baiklah kalau begitu, kita pergi mencari Ayahmu. Tapi, kita akan mencarinya
kemana???”
“Ayahku
pergi ke arah utara, tapi ku tidak tau kemana tujuannya” Phetha memasang wajah
murung.
“Utara???!!!”
Tanya Gari Kaget.
“Ya.
Utara! Emangnya kenapa kalau ke arah utara?? Apa ada masalah??”
“Tidak
juga, hanya saja rumahku ada disana. Tapi tidak apalah, kita pergi saja! Lagi
pula belum tentu mereka masih ada disana dank u juga sudah lupa jalannya” Wajah
Gari sedikit murung.
“Benarkah
itu?? Kamu mau menemaniku mencari Ayah??” Tanya Phetha dengan senang. Gari pun menganggukan
kepalanya tanpa bicara sedikit pun dan dengan wajah yang muram.
“Terimakasih
banyak ya Ri!! Kamu memang sahabatku yang baik!!” Teriak Phetha girang.
“Ya…..
sama-sama. Kalau begitu kita tak usah buang-buang waktu lagi, kita berangkat
saja sekarang” Ajak Gari dengan menyembunyikan kesedihannya.
“Baiklah…!!!”
Ujar Phetha.
Mereka
pun berangkat menuju arah utara. Langkah demi langkah Gari berjalan dan Phetha
berada di punggungnya. Telah lama mereka berjalan, dan akhirnya mereka pun
keluar dari bukit itu.
Perjalanan
mereka yang sebenarnya akan dimulai dari sini, di tengah kota yang besar dan
penuh dengan bahaya. Mereka berhenti sejenak untuk menentukan jalan mana yang
harus mereka ambil. Setelah sekian lama berpikir akhirnya mereka menemukan
jalan yang akan dilalui untuk pergi ke utara. Mereka memilih jalan kecil yang
tidak banyak orang dan kendaraan agar lebih aman.
Saat
mereka sedang berjalan, tiba-tiba ada seekor kucing lapar yang menghadang
mereka secara tiba-tiba. Gari dan Phetha terhentak kaget karena melihat seekor
kucing loreng yang kelihatannya galak yang tiba-tiba muncul.
Ternyata
kucing liar itu ingin memakan Phetha karena tengah lapar dan tidak ada makanan
lain. Tapi, Gari menghalanginya dan melindungi Phetha agar tidak di makan oleh
kucing liar itu. Kucing liar itu tetap berusaha keras untuk memakan Phetha, dan
Gari terus menjaga Phetha hingga pada akhirnya mereka berkelahi. Perkelahian
itu berlangsung cukup lama, Gari dan kucing liar itu telah terluka cukup parah.
Tapi diantara mereka tidak ada yang mau menyerah, sampai pada akhirnya mereka
merasa kelelahan, kucing liar itu pun pergi karena tidak kuat lagi untuk
berkelahi dengan Gari lagi, begitu pula dengan Gari, terdiam lelah dan penuh
luka cakaran dan gigitan.
“Kamu
tidak apa-apa kan Ri??” Tanya Phetha dengan ketakutan.
“Tidak,
tidak apa-apa ko, Cuma luka ringan saja”
“Luka
ringan dari mana! Kamu penuh luka seperti ini!! Kenapa sih kamu bela-belain
nolongin aku sampai ngorbanin diri kamu segala??!!”
“Kamukan
sahabatku, mana mungkin aku membiarkan sahabatku sendiri celaka!”
“Tapikan
tidak perlu sampai mengorbankan dirimu sendiri!!” Phetha mulai mengeluarkan air
mata harunya.
“Sudahlah,
tidak apa-apa! Lagi pula sudah lewat ini, yang penting kamu tidak apa-apa!”
“Makasih
ya…! Kamu baik sekali padaku. Kalau begitu kita istirahat dulu ya, sampai
lukamu sembuh”
“Baiklah!”
Ujar Gari lemas.
Mereka
pun beristirahat di tempat itu selama beberapa hari. Setiap hari Phetha yang
mencarikan makan untuk Gari dan untuk dirinya sendiri karena Gari tidak kuat
untuk berjalan.
Selama
dua hari mereka beristirahat di tempat itu, dan Phetha terus merawat Gari. Kini
Gari mulai pulih dan mampu untuk berjalan.
“Sepertinya
ku sudah kuat tuk melanjutkan perjalanan kita lagi” Ujar Gari.
“Benar
kamu sudah kuat tuk lanjutkan perjalanan kita lagi??” Tanya Phetha.
“Ya…!
Kurasa begitu”
“Baiklah
kalau itu maumu”
Mereka
berdua melanjutkan kembali perjalanan itu. Berhari-hari mereka terus berjalan
mencari Ayah Phetha yang pergi dari rumah. Berbagai peristiwa telah mereka
hadapi bersama, dari mulai susahnya mencari makan, melawan kucing dan anjing
liar, menghadapi kejamnya dunia liar yang katanya lebih kejam dari Ibu tiri,
serta melalui rumah Gari yang berada di pinggiran sungai di tengah kota.
“Gari,lihat!
Ada sungai besar, kita bisa minum dan istirahat disana sejenak” Ujar Phetha
dengan riang.
“Ya…
ku tahu itu, disana tempat tinggalku. Dulu…..” Phetha mengeluarkan raut wajah
yang sedih.
“Benarkah
itu rumahmu??? Kalau begitu mari kita kesana!! Ayo…” Ajak Phetha dan terbang
menuju sungai itu, tapi ia berhenti dan kembali lagi ke Gari yang terdiam.
“Ada
apa Ri? Apa kau tak mau melihat keluargamu?” Tanya Phetha.
“Tidak,
ku tak mau pulang! Ku sudah terlanjur pergi dari rumah, dan percuma bila ku
pulang, mereka takan menganggapku dan tak pedulikan ku seperti dulu” Jawab Gari
dengan raut wajah yang memelas.
“Janganlah
kau begitu Ri, bagaimana pun mereka tetap keluargamumu. Lagi pula itukan dulu,
mungkin sekarang mereka telah berubah dan sadar akan kesalahan mereka” Rayu Phetha
agar Gari mau bertemu dengan keluarganya.
“Begitukah???
Lalu, bagaimana dengan ibumu?? Bukankah kau juga sama seperti ku, tak ingin
bertemu dengannya???” Gari mencoba memutar balikan pembicaraan.
“Ya,
mungkin itu benar, tapi dia tak pernah pedulikanku, dan ini lain Phetha, mereka
pasti ingin bertemu kamu!!”
“Memangnya
Ibumu tak mau bertemu denganmu lagi??? Dia juga ingin bertemu kamu…!! Bagamana
pun dia Ibumu” Gari memutar balikan keadaan.
“Ok,,Ok,,!!
Ku akui itu, tapi ku ingin bertemu dengan Ayahku itu sebabnya ku pergi, sekarang
ku mohon kamu mau bertemu dengan keluargamu” Ajak Phetha kembali.
“Baiklah
kalau kamu memaksaku, tapi hanya sebentar dan kita langsung pergi lagi mencari
ayahmu”
“Baiklah
asalkan kamu mau bertemu dengan mereka” Phetha tersenyum bahagia.
Mereka
mendekati sungai itu dan Gari diikuti Phetha menuju tempat dimana keluarga Gari
tinggal. Setelah Gari sampai di tempat itu, ia terhentak kaget. Keluarganya
tidak ada disana, dan tempat itu benar-benar kosong. Hanya sisa-sisa kardus
yang berantakan rata dengan tanah.
“Gari,
mana rumah dan keluargamu? Kenapa nggak ada?” Tanya Phetha penasaran.
“Mereka…mereka
pergi Tha….. mereka tinggalkan aku sendiri. Sekarang ku tak punya siapa-siapa
lagi” Perlahan Gari mengeluarkan air mata sambil menunduk.
“Tenanglah
Ri, kamu masih punya aku disini. Aku akan selalu ada dekatmu sebagai sahabatmu”
Phetha mencoba menenangkan Gari.
“Terimakasih…..
ku percaya itu. Lebih baik sekarang kita mengambil minum dan segera pergi lagi,
ku tak mau lama-lama disini” Ujar Gari dengan sedikit rasa sesal.
Mereka
mengambil air minum dan membasuh diri mereka yang kotor. Mereka bergegas pergi
dari tempat itu karena Gari tak mau lama-lama berada disana. Setelah beberapa
meter dari rumahnya, Gari menengok ke belakang melihat rumahnya tuk
terakhirkalinya.
Berhari-hari
Gari melangkahkan kakinya dengan semangat dan tekad yang kuat tuk bertemu
dengan Ayah Phetha. Dan dengan hambatan-hambatan yang selalu ada bergantian
mereka tetap tidak menyerah tuk terus berjuang demi tujuan yang harus dicapai.
Dengan
5L (Lemah, Letih, Lesu, Lunglai, dan Lapar) mereka akhirnya sampai di sebuah
hutan kecil yang cukup jauh dari kota. Mereka masuk ke dalam hutan itu tanpa
rasa takut akan segala yang ada di dalamnya. Perasaan Phetha mengatakan bahwa
Ayahnya ada dalam hutan itu dan sedang menunggunya.
Setelah
cukup dalam mereka masuk ke dalam hutan itu, mereka menemukan sebuah lapang
hijau yang luas dengan danau yang jernih, beserta hewa-hewan liar yang hidup
tentram.
Dari
kejauhan Phetha melihat Ayahnya yang sedang bertengger di atas sebuah pohon
besar.
“Gari,
lihat!!! Itu Ayahku…..!!!” Teriak Phetha dengan hati yang sangat senang.
“Dimana???
Aku tidak melihatnya!” Tanya Gari penasaran.
“Itu…di
atas pohon yang besar itu!!”
“Itukah
Ayahmu…?? Baguslah kalau begitu, akhirnya kamu bisa bertemmu dengannya. Ayo
kita hampiri dia!”
“Ayo…..”
Gari
mendekati pohon besar dimana Ayah Phetha berada. Kini mereka telah sampai di
bawah pohon itu, Phetha memanggil Ayahnya. Ayahnya pun melihat ke arah Phetha.
Tapi, saat Ayahnya akan turun menghampiri Phetha dan Gari. “Dooooorrrrr!!!!!”
Suara senapan yang keras terdengar dan seketika mengenai Ayahnya Phetha.
“Ayaaaaahhhhh……!!!!!”
Teriak Phetha dengan histeris.
Ternyata
ada seorang pemburu yang rupanya sudah mengincar Ayahnya sejak tadi. Phetha
menghampiri Ayahnya yang terjatuh dengan air mata yang bercucuran.
“Ayaaaah…
jangan tinggalin Phetha…! Bangun Ayah….bangun…..” Phetha mengeluarkan air mata
yang berlinang.
Gari
kesal sekali ke pemburu itu karena telah membunuh Ayah Phetha. Ia berlari ke
arah pemburu itu dan menerkamnya.
“Dasar
pemburu sialan…!!!!!” Teriak Gari sambil mencengkramnya dengan sekuat tenaga.
Karena
Gari hanya kucing kecil biasa, pemburu itu melemparkan Gari dan tanpa rasa kasihan
ia langsung menembak Gari dua kali berturut-turut. Gari mengeong keras karena
kesakitan dan ia mati seketika itu juga.
“Gari……!!!”
Teriak Phetha melihat Gari di tembak berkali-kali, ia langsung terbang
menghampirinya.
“Gari…jangan
tinggalin aku juga…! Ku tak punya siapa-siapa lagi selain kamu” Phetha menangis
terisak-isak. Phetha sangat sedih dan lekas terbang menyelamatkan dirinya. Tapi
sayang, sunguh disayangkan, seperti Ayahnya dan Gari ia pun ditembak pula oleh
pemburu itu dan mati.
Akhirnya
Gari berhasil menjalankan misinya mengantarkan Phetha kepada Ayahnya, dan Phetha
akhirnya bertemu dengan Ayahnya, walau mereka bertiga akhirnya harus mati dan
damai di alam sana.
Bila kita berjuang terus dengan sekuat
tenaga, kita pasti mendapatkan apa yang kita capai. Dan persahabatan akan
selalu ada saat duka maupun suka, dan akan mengantar kita untuk mencapai impian
kita.
Terus bekerja keras untuk mencapai impian
dan ikatlah erat-erat tali persahaban, dan jangan lupakan keluarga kita,
sebagaimana pun kejamnya keluarga. Karena hanya dalam keluargalah kita dapatkan
kasih sayang yang sebenarnya.
"KUCING GARI & MERPATI PHETHA"