Minggu, 11 September 2011

"KETIKA RUMAH MENJADI NERAKA"

Ini sebuah kisah nyata dalam hiruk pikuk keluarga sahabat saya...
Cerita ini di buat oleh Devi,.

Simak dan cermatilah...ini bisa menjadi introfeksi bagi kita semua,.



KDRT bukanlah bahasa gaul seperti PDKT atau CLBK. KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) adalah suatu keadaan yang amat kejam dan memilukan. Sebuah kondisi yang membuat adik-adikku kini tertekan mentalnya hingga mereka putus sekolah. KDRT adalah keadaan yang menjadikan rumah yang seharusnya menjadi surga bagi keluarga sebagai neraka di dunia.
            Namaku Ricky, aku adalah anak pertama dari ayah dan ibuku yang bekerja di suatu daerah di Bogor. Tapi hampir seumur hidupku tinggal di rumah nenek di Jakarta. Ibu mengandungku tiga bulan sebelum resmi menjadi istri ayah. Ayah yang waktu itu baru saja lulus SMA, belum bekerja dan tidak punya tempat tinggal yang layak. Orangtua ayahku yang sedari awal menyesalkan kenapa ayah dan ibu bisa MBA mengambilku untuk tinggal bersama mereka. Rencananya sih sampai ayah bisa punya rumah sendiri dan bisa mencukupi semua kebutuhanku.
            Namun pada saat aku SD kakek meninggal dunia, nenek lalu memintaku untuk terus menemaninya di rumahnya yang cukup besar.
“Kamu adalah anak laki-lakiku sekarang…..” begitu kata nenek.
Aku di sekolahkan hingga lulus SMA dan kini masuk ke sebuah perguruan tinggi nomor satu di Indonesia. Seluruh warisan kekek digunakan nenek untuk membuatku menjadi orang yang sukses. Aku memang memikul beban tanggung jawab yang amat besar. Aku pun menjalaninya dengan serius.
Dua minggu sekali aku pulang ke Bogor. Dari rumah nenek yang sepi dan kosong aku selalu merasa senang disambut oleh kedua adikku, yang pertama bernama Ririn, seorang gadis manis dengan senyum yang menawan, tapi sayangnya ia tuna runggu, bawaan dari lahir. Ia harus sekolah di SLB dengan biaya yang tidak murah.
Adikku yang kedua bernama Heri, Alhamdulillah Heri lahir sempurna dengan paras yang mirip sekali denganku, kini ia sudah kelas 4 SD dan selalu menjadi juara kelas. Setiap aku pulang mereka berdua selalu minta oleh-oleh, Heri yang agak ndut minta dibelikan bapau ayam kesukaannya, sedangkan Ririn yang senang sekali belajar selalu ingin barang baru buat di pakai di sekolah. Walaupun kami jarang ketemu aku sayang dan bangga punya adik kaya mereka.
Semakin sibuk kuliah aku jadi semakin jarang pulang ke rumah orangtuaku. Untuk menghemat ongkos, aku dapat mengirim sms menanyakan kabar kepada ayah, tidak lupa ku titipkan salam sayang untuk ibu dan adik-adikku. Tapi pada suatu hari sms ku tak kunjung terkirim.
“Ah minggu ini aku akan ke Bogor!” ujarku dalam hati.
Kesibukan kuliah membuatku lupa sejenak. Waktu weekend ke Bogor ku baru tau kenapa sms ku gak kekirim juga.
Ternyata di Bogor keluargaku mengontrak sebuah rumah kecil tanpa sepengetahuanku. Memang dengan gaji ayah yang seorang pegawai material belum cukup untuk membeli sebuah rumah. Sedangkan ibu tidak bekerja karena tidak punya ijasah karena sangat muda saat berpisah dengan orangtuanya.
Weekend itu aku melihat suatu keanehan, kedatanganku yang biasa disambut oleh sapaan ibu dan canda tawa adik-adikku, kali ini disambut oleh kesunyian. Aku melihat motor ayah belum ada di halaman dan betapa shoc-nya aku waktu melihat keadaan ruang tengah dan dapur yang berantakan.
Sayup-sayup terdengar suara tangisan Heri dari kamar ibu. Buru-buru aku mengetuk pintu kamar ibu dengan tidak sabar, Heri dengan pipi yang berlinang air mata membukakan pintu.
“Her, kenapa kamu nangis? Lho, mata dan bibir ibu juga kenapa?” ujarku sambil melayangkan pandanganku kedalam kamar sempit yang remang-remang.
“Ricky, kamu sudah pulang nak? Ibu Cuma gak enak badan Ku genggam tanga ibu dengan erat. “Ibu jangan bohong, masa enggak enak badan mata jadi lebam dan bibir sobek sih?” kataku sambil mencoba bersikap tenang.
Kulihat adik-adiku mulai menitikan air mata.
“Her, ajak Ririn kedepan dan buka tas kakak, disitu ada bapau dan kotak pensil” aku coba nenangin suasana dan agar aku bisa ngomong empat mata sama ibu.
Alangkah kagetnya aku. Bukan jeritan bahagia dari Heri yang aku dengar tapi tangisannyalah yang semakin keras “Lho kenapa Her?” tanyaku heran.
Ririn menarik lengan bajuku lalu bercerita dengan bahasa isyarat “Kak, Ririn mulai senin nggak akan sekolah lagi, uang ayah dan ibu nggak cukup” ceritanya berhenti karena Ririn jadi sibuk menyeka air matanya.
“Heri juga nggak mau makan bapau, leher Heri sakit di cekik ayah” Heri menambahkan sambil menunjukan lehernya kepadaku. Dengan gemetar ku periksa leher Heri yang memang berwarna keunguan bekas tekanan yang kuat.
“Lalu yang membuat ibu begini dan rumah berantakan juga ayah?”
 Tanyaku pada ibu.
Ibu mengangguk lemas sambil menggendong Ririn yang menangis sejadi-jadinya. Aku memohon kepada ibu agar menceritakan yang terjadi. Kata ibu saat jum’at siang pas ayah nggak ada di rumah pemilik kontrakan datang menagih uang kontrakan dua bulan kepada ibu. Ibu yang merasa uang kontrakan sudah di bayar lunas oleh ayah, kebingungan setelah diancam akan diusir oleh pemilik kontrakan.
Karena panik malam harinya ibunya langsung bertanya pada ayah yang baru pulang dari toko. Ayah menjelaskan bahwa selama ini uang kontrakan digunakan untuk sebuah investasi bisnis, dengan harapan uang yang dihasilkan lebih banyak, tapi ternyata bisnisnya gagal total. Akibat ketahuan bisnis ayah dipecat sebagai pegawai toko di material motor dan HP terpaksa ayah jual untuk iuran sekolah Ririn, lalu ibu menceritakan ancaman pemilik kontrakan dengan detil.
Saat itu ayah sedang diam, dan ibu coba berbicara “Yah, bagaimana ini? Mana kita harus bayar uang sekolah Ririn. Aduh... ibu jadi bingung nih, apa kita minta tolong sama nenek anak-anak ya?”
Buk!!! Sebuah tonjokan keras mendorong ibu hingga terduduk di lantai. Ayah yang pendiam seperti kesetanan, sederet maki-makian meluncur dari bibir ayah.
“Loe bukannya bantuin suami malah enak-enakan di rumah, dasar perempuan malas!!!” kegaduhan di ruang tengah rupanya membangunkan Heri dan Ririn. “Anak loe ini yang bisanya cuma makan dan ngabisin duit!!” maki ayah yang sambil mencekik leher Heri, ibu lalu memeluk kaki ayah dan memohon agar ayah ,elepaskan Heri “Lepas nggak??!!” ancam ibu. Sejak kejadian itu ibu sering sakit-sakitan.
Selama satu minggu banyak tetangga yang mendengar ibu sakit, dan menengok ke rumah, bila ditanya apa yang terjadi ibu pasti ngaku ketabrak angkot pas mau kepasar. Aku dan adikku diam 1000 bahasa, sungguh terkejut waktu tante Mia mengajaku bicara secara pribadi “Kalau aku boleh kasih tau, kayaknya ibu kamu dipukulin ayah kamu deh Ricky! Soalnya dulu tante pernah mendengar mereka berantem heboh di satu malam, dan keesokan harinya ibumu juga biru-biru di bagian mukanya. Dan pernah ya waktu aku pulang malam nih, ayah kamu lagi nyeret ibumu di halaman. Aku hanya bisa diam aja, soalnya takut di bilang mencampuri urusan rumah tangga orang lain” cerita tante Mia.
Hatiku merasa teriris dan wajahku mulai merah padam menahan emosi. Setelah tante Mia pulang, baru aku mengunci diri di kamar mandi dan menangis sejadinya. Tiba-tiba Heri mengetuk pintu kamar mandi “kak. . . . . ibu. . . . .pemilik kontrakan datang lagi, dia ngusir kita kak!!!”
Dengan lemas aku duduk di lantai dan bersandar pada pintu kamar mandi yang dingin “Ya Allah ampunilah hambamu ini ya Allah”
Ayah tak kunjung pulang, dan tak mungkin aku menunggunya pulang, terpaksa aku memboyong ibu dan adik-adikku ke Jakarta sendirian. Nenek yang tadinya menolak kedatangan mereka akhirnya luluh setelah aku menceritakan semua yang terjadi. Dipeluknya ibu dengan penuh kasih sayang. “Maafkan ibu nak! Kalian boleh tinggal disini” ujar nenek.
Kalau dihitung-hitung uang warisan kakek tidak akan cukup untuk hidup kami berlima, akhirnya aku bekerja di sebuah restoran setiap pulang kuliah, ibu juga mulai dagang kue dengan resep yang ibu pelajari dari nenek. Tapi sayang uangnya masih belum cukup. Tak sanggup aku melihat adik-adikku harus hidup seperti ini.
Amarah dan dendamku pada ayah semakin bertambah. Setiap aku melihat wajah Ririn yang menahan tangis melepas kepergian Heri ke sekolah dan Ririn hanya diam di rumah, dan air matanya menetes ketika membantu Heri mengerjakan PR.
Heri juga banyak berubah, ia lebih pendiam dan susah makan. Mungkin kata-kata ayah waktu itu sungguh melukai hatinya yang lembut. Adik-adikku yang dulu gempal kini menjadi kurus dan sering sakit.
Suatu hari tante Mia telpon. Dia bercerita bertemu ayah di sebuah warung di depan pusat perbelanjaan. Ku kantongi sebuah pisau dapur yang tajam, dengan tekat yang kuat aku pergi ke Bogor.
Ternyata ayah menjadi seorang tukang parkir di sebuah pusat perbelanjaan. Dengan wajah yang kucel dan baju yang robek ayah dengan gigih membantu memarkir puluhan mobil yang keluar masuk. Tak jarang ayah harus mengejar mobil agar memberinya upah setelah dibantu, kadang recehnya jatuh ke aspal atau di lempar. Waktu istirahat ayah juga sangat terbatas karena semakin sering ia istirahat semakin terlewat kesempatan mencari uang. Kemarahanku reda begitu saja ketika melihat kondisi ayah. Dan dengan sedih aku kembali pulang ke Jakarta, serta sejak itu aku nggak pernah meluhat ayah lagi.
Heri makin kurus, Ririn makin putus asa sekolah, tapi aku menjalani hari-hari biasa dengan gigih belajar mencari uang walaupun harus menahan sedih. Aku berusaha tetap tegar dihadapan keluargaku, padahal hati ku sangat remuk. Aku tidak tau harus menyalahkan siapa, memang ayahlah yang salah, tapi keadaan juga tidak mendukung.
Bersyukurlah kalian yang mempunyai keluarga yang lengkap dan harmonis. Ku harap semua yang terjadi padaku dan keluargaku saat ini tidak akan pernah terjadi pada kalian semua.

0 komentar:

Posting Komentar