Ini sebuah kisah nyata dalam hiruk pikuk keluarga sahabat saya...
Cerita ini di buat oleh Devi,.
Simak dan cermatilah...ini bisa menjadi introfeksi bagi kita semua,.
Cerita ini di buat oleh Devi,.
Simak dan cermatilah...ini bisa menjadi introfeksi bagi kita semua,.
KDRT bukanlah bahasa gaul seperti PDKT atau CLBK. KDRT
(Kekerasan Dalam Rumah Tangga) adalah suatu keadaan yang amat kejam dan
memilukan. Sebuah kondisi
yang membuat adik-adikku kini tertekan mentalnya hingga mereka putus sekolah.
KDRT adalah keadaan yang menjadikan rumah yang seharusnya menjadi surga bagi
keluarga sebagai neraka di dunia.
Namaku Ricky, aku adalah anak
pertama dari ayah dan ibuku yang bekerja di suatu daerah di Bogor. Tapi hampir seumur hidupku tinggal
di rumah nenek di Jakarta. Ibu mengandungku tiga bulan sebelum resmi menjadi
istri ayah. Ayah yang waktu itu baru saja lulus SMA, belum bekerja dan tidak
punya tempat tinggal yang layak. Orangtua ayahku yang sedari awal menyesalkan
kenapa ayah dan ibu bisa MBA mengambilku untuk tinggal bersama mereka.
Rencananya sih sampai ayah bisa punya rumah sendiri dan bisa mencukupi semua
kebutuhanku.
Namun pada saat aku SD kakek
meninggal dunia, nenek lalu memintaku untuk terus menemaninya di rumahnya yang
cukup besar.
“Kamu adalah anak laki-lakiku sekarang…..” begitu kata nenek.
Aku di sekolahkan
hingga lulus SMA dan kini masuk ke sebuah perguruan tinggi nomor satu di
Indonesia. Seluruh warisan kekek digunakan nenek untuk membuatku menjadi orang
yang sukses. Aku memang memikul beban tanggung jawab yang amat besar. Aku pun
menjalaninya dengan serius.
Dua minggu sekali aku pulang ke Bogor. Dari rumah nenek yang
sepi dan kosong aku selalu merasa senang disambut oleh kedua adikku, yang
pertama bernama Ririn, seorang gadis manis dengan senyum yang menawan, tapi
sayangnya ia tuna runggu, bawaan dari lahir. Ia harus sekolah di SLB dengan
biaya yang tidak murah.
Adikku yang kedua bernama Heri, Alhamdulillah Heri lahir
sempurna dengan paras yang mirip sekali denganku, kini ia sudah kelas 4 SD dan
selalu menjadi juara kelas. Setiap
aku pulang mereka berdua selalu minta oleh-oleh, Heri yang agak ndut minta
dibelikan bapau ayam kesukaannya, sedangkan Ririn yang senang sekali belajar
selalu ingin barang baru buat di pakai di sekolah. Walaupun kami jarang ketemu
aku sayang dan bangga punya adik kaya mereka.
Semakin sibuk kuliah aku jadi semakin jarang pulang ke rumah
orangtuaku. Untuk menghemat ongkos, aku dapat mengirim sms menanyakan kabar
kepada ayah, tidak lupa ku titipkan salam sayang untuk ibu dan adik-adikku.
Tapi pada suatu hari sms ku
tak kunjung terkirim.
“Ah minggu ini aku akan ke Bogor!” ujarku dalam hati.
Kesibukan kuliah membuatku lupa sejenak. Waktu weekend ke
Bogor ku baru tau kenapa sms ku gak kekirim juga.
Ternyata di
Bogor keluargaku mengontrak sebuah rumah kecil tanpa sepengetahuanku. Memang dengan gaji ayah yang seorang pegawai
material belum cukup untuk membeli sebuah rumah. Sedangkan ibu tidak bekerja
karena tidak punya ijasah karena sangat muda saat berpisah dengan orangtuanya.
Weekend itu aku melihat suatu keanehan, kedatanganku yang
biasa disambut oleh sapaan ibu dan canda tawa adik-adikku, kali ini disambut
oleh kesunyian. Aku melihat motor ayah belum ada di halaman dan betapa shoc-nya
aku waktu melihat keadaan ruang tengah dan dapur yang berantakan.
Sayup-sayup terdengar suara tangisan Heri dari kamar ibu.
Buru-buru aku mengetuk pintu kamar ibu dengan tidak sabar, Heri dengan pipi
yang berlinang air mata membukakan pintu.
“Her, kenapa kamu nangis? Lho, mata dan bibir ibu juga kenapa?” ujarku sambil
melayangkan pandanganku kedalam kamar sempit yang remang-remang.
“Ricky, kamu sudah pulang nak? Ibu Cuma gak enak badan” Ku genggam tanga ibu dengan erat.
“Ibu jangan bohong, masa enggak enak badan mata jadi lebam dan bibir sobek
sih?” kataku sambil mencoba bersikap tenang.
Kulihat adik-adiku mulai menitikan air mata.
“Her, ajak Ririn kedepan dan buka tas kakak, disitu ada bapau
dan kotak pensil” aku coba nenangin suasana dan agar aku bisa ngomong empat
mata sama ibu.
Alangkah kagetnya
aku. Bukan jeritan bahagia dari Heri yang aku dengar tapi tangisannyalah yang
semakin keras “Lho kenapa Her?” tanyaku heran.
Ririn menarik
lengan bajuku lalu bercerita dengan bahasa isyarat “Kak, Ririn mulai senin
nggak akan sekolah lagi, uang ayah dan ibu nggak cukup” ceritanya berhenti
karena Ririn jadi sibuk menyeka air matanya.
“Heri juga nggak
mau makan bapau, leher Heri sakit di cekik ayah” Heri menambahkan sambil
menunjukan lehernya kepadaku. Dengan gemetar ku periksa leher Heri yang memang
berwarna keunguan bekas tekanan yang kuat.
“Lalu yang membuat
ibu begini dan rumah berantakan juga ayah?”
Tanyaku pada ibu.
Ibu mengangguk
lemas sambil menggendong Ririn yang menangis sejadi-jadinya. Aku memohon kepada
ibu agar menceritakan yang terjadi. Kata ibu saat jum’at siang pas ayah nggak
ada di rumah pemilik kontrakan datang menagih uang kontrakan dua bulan kepada
ibu. Ibu yang merasa uang kontrakan sudah di bayar lunas oleh ayah, kebingungan
setelah diancam akan diusir oleh pemilik kontrakan.
Karena panik malam
harinya ibunya langsung bertanya pada ayah yang baru pulang dari toko. Ayah
menjelaskan bahwa selama ini uang kontrakan digunakan untuk sebuah investasi
bisnis, dengan harapan uang yang dihasilkan lebih banyak, tapi ternyata
bisnisnya gagal total. Akibat ketahuan bisnis ayah dipecat sebagai pegawai toko
di material motor dan HP terpaksa ayah jual untuk iuran sekolah Ririn, lalu ibu
menceritakan ancaman pemilik kontrakan dengan detil.
Saat itu ayah
sedang diam, dan ibu coba berbicara “Yah, bagaimana ini? Mana kita harus bayar
uang sekolah Ririn. Aduh... ibu jadi bingung nih, apa kita minta tolong sama
nenek anak-anak ya?”
Buk!!! Sebuah
tonjokan keras mendorong ibu hingga terduduk di lantai. Ayah yang pendiam
seperti kesetanan, sederet maki-makian meluncur dari bibir ayah.
“Loe bukannya
bantuin suami malah enak-enakan di rumah, dasar perempuan malas!!!” kegaduhan
di ruang tengah rupanya membangunkan Heri dan Ririn. “Anak loe ini yang bisanya
cuma makan dan ngabisin duit!!” maki ayah yang sambil mencekik leher Heri, ibu
lalu memeluk kaki ayah dan memohon agar ayah ,elepaskan Heri “Lepas nggak??!!”
ancam ibu. Sejak kejadian itu ibu sering sakit-sakitan.
Selama satu minggu
banyak tetangga yang mendengar ibu sakit, dan menengok ke rumah, bila ditanya
apa yang terjadi ibu pasti ngaku ketabrak angkot pas mau kepasar. Aku dan
adikku diam 1000 bahasa, sungguh terkejut waktu tante Mia mengajaku bicara
secara pribadi “Kalau aku boleh kasih tau, kayaknya ibu kamu dipukulin ayah
kamu deh Ricky! Soalnya dulu tante pernah mendengar mereka berantem heboh di
satu malam, dan keesokan harinya ibumu juga biru-biru di bagian mukanya. Dan
pernah ya waktu aku pulang malam nih, ayah kamu lagi nyeret ibumu di halaman.
Aku hanya bisa diam aja, soalnya takut di bilang mencampuri urusan rumah tangga
orang lain” cerita tante Mia.
Hatiku merasa
teriris dan wajahku mulai merah padam menahan emosi. Setelah tante Mia pulang,
baru aku mengunci diri di kamar mandi dan menangis sejadinya. Tiba-tiba Heri
mengetuk pintu kamar mandi “kak. . . . . ibu. . . . .pemilik kontrakan datang
lagi, dia ngusir kita kak!!!”
Dengan lemas aku
duduk di lantai dan bersandar pada pintu kamar mandi yang dingin “Ya Allah
ampunilah hambamu ini ya Allah”
Ayah tak kunjung
pulang, dan tak mungkin aku menunggunya pulang, terpaksa aku memboyong ibu dan
adik-adikku ke Jakarta sendirian. Nenek yang tadinya menolak kedatangan mereka
akhirnya luluh setelah aku menceritakan semua yang terjadi. Dipeluknya ibu
dengan penuh kasih sayang. “Maafkan ibu nak! Kalian boleh tinggal disini” ujar
nenek.
Kalau
dihitung-hitung uang warisan kakek tidak akan cukup untuk hidup kami berlima,
akhirnya aku bekerja di sebuah restoran setiap pulang kuliah, ibu juga mulai
dagang kue dengan resep yang ibu pelajari dari nenek. Tapi sayang uangnya masih
belum cukup. Tak sanggup aku melihat adik-adikku harus hidup seperti ini.
Amarah dan
dendamku pada ayah semakin bertambah. Setiap aku melihat wajah Ririn yang
menahan tangis melepas kepergian Heri ke sekolah dan Ririn hanya diam di rumah,
dan air matanya menetes ketika membantu Heri mengerjakan PR.
Heri juga banyak
berubah, ia lebih pendiam dan susah makan. Mungkin kata-kata ayah waktu itu
sungguh melukai hatinya yang lembut. Adik-adikku yang dulu gempal kini menjadi
kurus dan sering sakit.
Suatu hari tante
Mia telpon. Dia bercerita bertemu ayah di sebuah warung di depan pusat
perbelanjaan. Ku kantongi sebuah pisau dapur yang tajam, dengan tekat yang kuat
aku pergi ke Bogor.
Ternyata ayah
menjadi seorang tukang parkir di sebuah pusat perbelanjaan. Dengan wajah yang
kucel dan baju yang robek ayah dengan gigih membantu memarkir puluhan mobil
yang keluar masuk. Tak jarang ayah harus mengejar mobil agar memberinya upah
setelah dibantu, kadang recehnya jatuh ke aspal atau di lempar. Waktu istirahat
ayah juga sangat terbatas karena semakin sering ia istirahat semakin terlewat
kesempatan mencari uang. Kemarahanku reda begitu saja ketika melihat kondisi
ayah. Dan dengan sedih aku kembali pulang ke Jakarta, serta sejak itu aku nggak
pernah meluhat ayah lagi.
Heri makin kurus,
Ririn makin putus asa sekolah, tapi aku menjalani hari-hari biasa dengan gigih
belajar mencari uang walaupun harus menahan sedih. Aku berusaha tetap tegar
dihadapan keluargaku, padahal hati ku sangat remuk. Aku tidak tau harus
menyalahkan siapa, memang ayahlah yang salah, tapi keadaan juga tidak
mendukung.
Bersyukurlah kalian yang mempunyai keluarga yang
lengkap dan harmonis. Ku harap semua yang terjadi padaku dan keluargaku saat
ini tidak akan pernah terjadi pada kalian semua.
"KETIKA RUMAH MENJADI NERAKA"