Ini sebuah cerita yg telah sahabat saya buat sama masih duduk di kelas 1 SMA, ia bernama Irma.
Enjoy This story, please....
*Dear Diary
Enjoy This story, please....
Bertubuh semampai, berambut ikal, idung mancung itu
dialah Puput. Anak cewe tercantik di kelasku (Maybe. . .). Dia adalah seorang
anak petani yang sederhana dan berekonomi pas-pasan. Bertempat tinggal di
sebuah desa kecil yang makmur, subur, dan damai.
Pagi pun tiba. . . Puput segera pergi ke sekolah Eh. . .
Eh. . . tahu gak Puput pergi sama siapa? Cowok! Dia bertubuh tinggi, berwibawa,
bawa motor pula. Tau gak dia siapa? Ternyata eh ternyata, cowok itu adalah
seorang Pak RT yang mau berangkat ke Kota, katanya sih ada urusan yang harus
diselesaikan, dan Puput di ajak bareng deh. . . Kirain siapa? Biasa cewek-cewek
zaman sekarang pandai ngegosip he. . .he. . .
Hari Puput masuk sekolah. Puput mendapat cerita-cerita
baru yang tak bisa terlupakan. Keesokan harinya setiba Puput di sekolah, dia
melakukan hal yang sama bersama temannya di hari kemarin. Namun kali ini dia di
anter temen cowoknya, tidak hanya lain dia adalah Abi. Abi adalah anak orang
kaya yang baik hati. Pindahan dari kota Jakarta. Disini dia tinggal dengan
nenek dan kakeknya.
Besoknya di sekolah. Kali ini Puput datang lebih pagi
dari biasanya. dia menunggu teman-temannya datang, namun sudah lama di tunggu
mereka belum datang juga.
“Duh mereka pada kemana sie. . . Kok jam segini belum
pada nongol-nongol juga?” ujar Puput dengan kesal menunggu teman-temannya.
Prak. . .prak. . .prak. . . suara sepatu mengejutkan
datang menghampiri Puput. Dari belakang datanglah seseorang yang mengejutkan
Puput.
“Siapa itu??” Puput bertanya tanpa menoleh ke belakang.
Tidak ada suara yang menjawab. Puput pun penasaran. “Keluar kamu!!!” Puput
membentak.
“Saya Abi, Put!” Abi menjawab dengan polos.
“Abi, kamu bikin orang jantungan aja deh!” Puput berkata
dengan kesal.
Tak lama kemudian mereka berbincang-bincang dalam kelas
dan saling bercerita satu sama lain. Mereka ngerasa nyaman sekali ngbrol berdua
dan akhirnya Abi memutuskan tuk menjalin persahabatan dengan Puput. Puput baru
sadar kalau jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Namun 3 orang temannya
belum datang juga. Putri, Dina, dan Lusi mereka adalah teman dekat Puput. Biasanya
Puput duduk bersama Lusi, tapi karena Lusinya belum datang, Puput terpaksa
harus duduk bersama Abi. Tak lama kemudian Lusi dan kawan-kawan datang ke kelas
sambil lari terburu-buru.
“Pagi Bu, boleh kita masuk?” Lusi bicara dengan polos
(lebih tepatnya watados).
“Ya, ayo cepat masuk, kalian duduk di belakang!” Jawab
Bu Guru.
Dina bicara pada Lusi dan Putri “Lihat deh, masa Puput
duduk sama Abi sich!?”
Lusi menyaut perkataan Dina “Iya ya, kenapa mereka malah
duduk bareng??”
“Jangan-jangan mereka ada apa-apanya?” jawab Putri.
“Eh. . . kalian yang baru datang, kenapa kalian malah
ngobrol?? Cepat kerjakan tugasnya!!” Bentak Bu Guru ke 3 anak cewek itu dan
menyuruh supaya mengerjakan soal-soal yang telah di berikan. Sudah untung di
izinkan masuk, malah ngegosip!
Waktu berlalu, Puput dan ke 3 temannya itu pulang bersama dan Puput di
Tanya segala macem.
Lusi berkata “Put, kamu jadian ya sama Abi?”
Dina melanjutkan pertanyaan Lusi “Dari kapan Put kamu jadian sama Abi?”
Putri jadi ikut penasaran “Ya Put, kamu kok gak bilang-bilang sama kita
sih!?”
Puput menjawab “Ikh kalian apaan sie, aku dan Abi gak ada hubungan
apa-apa ko, aku sama Abi cuma temenan doang”
“Beneran Cuma temenan biasa doang?” Lusi bicara dengan sinisnya.
“Beneran Lus. . .” Jawab Puput dengan pelan.
“Ya bagus deh!” Wajah Lusi menjadi ceria.
“Kamu kenapa Lus, kayaknya seneng banget pas denger Puput gak jadian sama
Abi? Jangan-jangan kamu suka lagi sama abi?? Iyakan??” Putri bertanya dengan
memojokan Lusi.
“Gak ah, bisa aja tu. . .” jawab Lusi dengan muka memerah.
Sampailah mereka di rumah masing masing. Duh ceritanya agak bosen ya,
tapi masih penasarankan sama cerita selanjutnya?? Pastinya. . . Yu mari. . . .
.!!
Kali ini kita ikut ke rumah Lusi yu. . . Sampai di rumah Lusi. Dia masuk
ke kamarnya, dia menulis diary yang mengungkapkan isi hatinya. Dia menulis
perasaannya tentang seseorang yang dikaguminya.
*Dear Diary
Hari ini aku sedih banget, karena orang yang
selama ini aku kagumi mulai dekat dengan sahabatku. Rasanya hati ini tak rela
tuk merelakan dia dekat dengan cewek mana pun juga. Termasuk Puput sahabat
dekat ku.Puput gak tau kalau selama ini aku mengagumi dia, tapi aku belum
berani untuk mengungkapkan perasaan ini kepadanya. Karena sebenarnya ku tak
mampu tuk mengungkap semua perasaan ku secepat ini. Aku harus memikirkannya
matang-matang. Namun di balik semua itu aku tak rela jika harus melihat orang
yang ku sayang harus dekat dengan cewek lain. Tapi apa boleh buat, mungkin
semua akan terjawab dengan bergulirnya waktu. Hari ini aku kecewa dengan
sahabatku Puput. Besok ku harus bisa mengungkap semua perasaan ku kepada Abi.
Semoga besok akan berhasil.
26 Juni 2008
Esoknya di sekolah, Lusi datang ke sekolah paling pagi,
ternyata dia menunggu seseorang. Orang yang ditunggunya adalah Abi.
“Pagi Bi?” Sambut Lusi saat Abi datang.
“Pagi. . .! Tumben kamu datang pagi-pagi gini?” Jawab
Abi dan berbalik bertanya.
“Pengen aja! Tapi yang lebih pentingnnya sih. . . aku mu
bicara sesuatu sama kamu” Lusi berkata dengan gugup.
“Mau ngomong, ya silakan aja. mu ngomong juga susah
amat, ru belajar ngomong ya? mu ngomong paan sie, kaya yang serius amat??”
Tanya Abi penasaran.
Lalu Lusi menceritakan isi hatinya yang semalam telah di
tulis dalam diarynya. Lusi berusaha jujur tentang perasaannya pada Abi. Walau
sulit tuk di ucapkan namun Lusi berhasil mengungkapkan perasaannya pada Abi,
bahwa ternyata dia itu suka sama Abi. Abi pun merasa kaget, dan Abi diam
sejenak memikirkan perkataan yang diucapkan oleh Lusi.
Tak lama kemudian Puput dan yang lain pun datang, mereka
memecahkan suasana dan untung kepada Abi karena tidak usah menjawabnya
sekarang. Mereka merasa ada yang aneh pada Lusi. Puput bertanya pada Lusi,
kenapa dia dateng pagi sekali dan diam berdua dalam kelas. Dina dan Putri pun
merasa heran. Mereka langsung menyapa Abi, dan menanyakan apa Abi emang punya rencana
dateng bareng sama Lusi atau gak. Namun Abi tak menjawab apa-apa.
Puput bertanya dengan bingung “Sebenernya ada hubungan
apa sich antara Lusi dan Abi?”
Dina dan Putri menjawab dengan serempak “Au ah. . . . .
Gelap!!!”
Hari pun berlalu, dan pada sore harinya Puput bertemu
Abi di sebuah taman dekat sekolah. Abi di ajak ngobrol sebentar sama Puput.
Puput menghabiskan waktunya dengan Abi sore itu. Puput menanyakan apa yang sebenarnya
terjadi antara dia dan Lusi tadi pagi, tapi Abi tidak mau cerita karena Abi
orangnya memang tidak pernah dan tidak suka curhat ke orang lain, dia lebih
memilih untuk menyimpan semuanya di dalam hatinya sendiri. Puput tidak mau
menyerah begitu saja dan terus mendesak abi agar dia mau bercerita padanya.
Akhirnya hati Abi pun luluh juga dengan rayuan-rayuan Puput dan menceritakan
semua yang telah terjadi tadi pagi. Kalau selama ini Lusi itu suka sama Abi.
Puput menanyakan bagaimana tanggapannya pada Lusi. Abi tidak tahu harus bicara
apa, karena sebenarnya Abi hanya menganggap Lusi teman biasa saja.
Esok harinya di sekolah Lusi datang pagi-pagi lagi.
Namun kali ini dia mau menyimpan sepucuk surat di atas mejanya Abi sebelum ia
datang. Seling beberapa menit Abi pun datang, Lusi pura-pura membaca komik saat
Abi datang. Abi merasa aneh saat melihat ada sepucuk surat di atas mejanya, dan
segera membukanya. Ternya dalam surat itu tertulis:
“Ku tunggu di taman dekat sekolah pulangnya”
“Siapa ya, yang tulis surat ini?” Abi merasa heran. “Oh
mungkin ini surat dari Puput” Jawabnya sendiri dalam hati.
Bel sekolah telah berbunyi nyaring dan panjang. Abi
tidak buang waktu lagi dan langsung pergi ke taman. Di taman Abi diam di kursi
taman menunggu orang yang tadi memberinya surat tak jelas juntrungannya. Tak
lama kemudian Lusi pun datang menghampiri Abi.
“Udah lama nunggu ya?” sapa Lusi sambil malu-malu.
“Eh Lusi, jadi yang tadi tulis surat itu kamu ya? Ku
kira sapa!” Tanya Abi dengan perasaan kecewa.
“Iya aku yang tulis. . .” jawab Lusi.
“Langsung aja kamu mau bicara apaan lagi sama aku?”
Tanya Abi dengan malas.
“Bi, sebenernya aku tu suka banget sama kamu. Dari pertama
kamu perhatian sama aku, kamu pernah minjemin aku jaket disaat aku kedinginan
(waktu kemah di Nangorak). Kamu masih ingetkan?” dengan panjang lebar Lusi
menjelaskan pengalamanya bersama Abi waktu kemah.
“Oh yang itu, itu sich gak ada maksud apa-apa, ku
minjemin kamu jaket cuma aku gak tega aja liat cewek kedinginan. lagian kalau
orang lain yang pinjem juga pasti aku kasih”
“Tapi Bi, aku tu bener-bener sayang sama kamu. Apa tak
ada tempat sedikit pun di hati kamu untuk aku?” Tanya Lusi dengan sedikit
memaksa.
“Sudahlah jangan terlalu berharap, itu gak mungkin
terjadi!!” Abi langsung pergi dari tempat itu dan pulang ke rumahnya tanpa
ingin tahu Lusi bagaimana.
“Duh ada apa sama Abi ya. . . . . kenapa juga Abi malah
marah-marah kaya gitu . . .” Tanyanya heran.
Hmmm. . . petualangan kita dah hampir sampai puncak nie.
. . terus, terus, bagaimana ya kelanjutan ceritanya? Ikuti lagi tu. . .!
Abi di kamarnya. Wajah yang kusut dan memendam kekesalan
pada Lusi. Abi berbicara sendiri “Kenapa sich Lusi harus suka sama aku??
Padahal aku tidak menyimpan perasaan sedikit pun ke dia. Aku paling gak suka,
cewek yang suka memaksa perasaan orang lain. Karena cinta itu gak bisa dipaksakan.
Kenapa juga dia yang haru suka sama aku? kenapa gak yang lebih bagusan?? Ah
sudahlah, besok-besok aku gak akan dekat-dekat lagi sama dia”
Besoknya Lusi dan teman-temannya ngobrol seperti biasa.
Namun penampilan dan tingkah laku Lusi kali ini ko malah kecentilan gitu,
semata-mata dia bertingkah laku aneh dan tak seperti biasanya. Abi pun merasa
risik melihat tingkahnya yang over acting. Kayak cewek keganjenan gitu tu. . .
Lusi malah caper di depan Abi. Padahal doi paling gak suka kelakuan dan
penampilan seperti itu, dia lebih suka cewek yang gak banyak tingkah tapi lucu.
Meskipun semua yang dilakukan Lusi itu cuma ingin buat Abi menjadi tertarik
tetep aja hasilnya nihil.
Puput merasa ada sesuatu yang di pendam hati Abi, Puput
pun penasaran. Puput menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Abi pun berkata
pada Puput bahwa dia itu gak suka sama gaya Lusi yang over acting itu. . .
“Dia kira dengan dia berpenampilan seperti itu aku akan
suka sama dia? gak sama sekali!!” Abi berkata dengan tegas.
“Kamu bener, bener, bener gak suka sama Lusi?” Puput
merayu dan berkata dengan senyum.
“Bener lah Put!” jawab Abi dengan polos.
Dari hari ke hari kekesalan Abi pada Lusi semakin
membara. Cie. . . membara, api kali yang membara. . . . . hehe!! Meskipun
demikian Lusi masih tetap berharap suatu saat Abi akan membuka hati untuknya.
Ada tingkah laku yang paling Abi benci dari Lusi untuk
mencari perhatiannya. Lusi selalu mengikuti semua ekskul yang Abi ikuti.
Mula-mula Abi ikut ekskul Basket, Lusi juga ikut ke dalam ekskul itu. Pada
awalnya sich Abi masih menganggapnya biasa saja. Tapi Abi tidak lama ikut
ekskul itu dia keluar dan masuk ekskul GDS yang dipikirnya lebih baik. Tapi
ternyata Lusi pun keluar dari ekskul Basket dan mengikuti Abi masuk ekskul GDS.
Disini Abi mulai merasa kesal akan kelakuan Lusi yang
mengikutinya terus, akibatnya amarah Abi semakin bergejolak. Makin parah ni,
marahnya semakin bergejolak. . . lajut lagi ah! Abi kesal dan keluar dari
ekskul itu dan tidak ikut ekskul apa-apa lagi. Dan ternyata!!! Eng. .ing. .eng.
. Lusi juga keluar dari ekskul itu. Abi benar-benar sadar sekarang kalau Lusi
memang sengaja mengikutinya.
Di kelas saat tidak ada guru, teman sebangku Abi
menawarkan Abi untuk ikut ekskul Paskibra karena kekurangan anggota.
“Bi, ikut ekskul Paskibra yu! Mau gak??” ajak teman
sebangku abi.
Abi merasa ini kesempatan yang bagus untuk lebih
membuktikan apakah Lusi benar-benar mengikutinya atau tidak.
“Wah boleh tu. . . kebetulan aku lagi gak ikut ekskul
apa-apa sekarang, aku ikut ekskul Paskibra deh. . .!” Abi sengaja berbicara
keras agar Lusi mendengarnya dan ikut ekskul Paskibra.
Hari latihan Paskibra pun telah tiba. Ternyata dugaan
Abi benar, Lusi memang sengaja mengikutinya. Buktinya sekarang Lusi ikut
latihan Paskibra, sedangkan Abi sendiri tidak ikut latihan dan langsung pulang
karena memang tidak niat tuk ikut ekskul Paskibra, perkataannya waktu itu hanya
untuk menjebak Lusi saja.
Seling dua minggu dari hari itu Lusi terus latihan
Paskibra meskipun Abi tidak ikut. Abi merasa heran kenapa Lusi tidak keluar
dari ekskul itu. Abi bertanya pada teman sebangkunya kenapa Lusi tidak keluar
dari ekskul Paskibra. Ternyata penyebab Lusi tidak keluar dari ekskul itu
karena dalam ekskul itu ada kakak kelas yang lumayan cakep sih menurut ku, doi
adalah Kak Imran.
Abi merasa lega sekali mendengarnya, karena ia merasa
telah lepas dari belenggu Lusi yang buatnya selalu risik. Abi nerasa dirinya
telah bebas untuk mengikuti ekskul lagi. Kini Abi mengikuti salah satu ekskul
yang sebenarnya dari awal dia inginkan tuk diikutinya, Abi mengikutinya tanpa
memberitahu siapa-siapa tuk jaga-jaga agar Lusi tidak mengikutinya lagi, karena
abi benar-benar ingin bergelut dalam akskul itu. Alah bergelut loe, kaya
petarung aja! Lanjut. . .!
Beberapa minggu Abi ikuti latihan dengan tenang, tapi
saat latihan yang kesekian kalinya, tiba-tiba nongol tu Lusi mengikuti ekskul
itu sebagai anggota baru. Abi sangat terkejut dan sangat marah kepada Lusi,
tapi Abi tidak memarahinya karena bisa mengendalikan emosinya.
Abi menjadi sangat bingung, dia tidak bisa konsen dalam
latihan itu karena keberadaan Lusi. Abi ingin keluar dari ekskul itu, tapi dia
sangat menyukai ekskul itu dan tidak mau kehilangannya, tapi di sisi lain ia
kesal dan tidak mau satu ekskul dengan Lusi. Dan akhirnya Abi memutuskan tuk
tetap ikut ekskul itu dan mencoba bersikap propesional tanpa memperdulikan
Lusi. Naaf ya ekskulnya tidak bisa di sebutkan, soalnya gak boleh sama Abi.
Seiring waktu berjalan Abi tak pernah anggap Lusi
ssebagai temannya lagi, melainkan Abi anggap Lusi hanya sebagai orang yang
tidak pernah dia kenal.
Pada hari libur semester Puput mengajak Abi jalan-jalan
ke tempat yang sangat indah. Disitu Puput mengungkapkan perasaan yang
sebenarnya kepada Abi yang sejak dulu terpendam.
“Bi, sebenarnya dari dulu aku gak mau sahabatan sama
kamu, sahabat buat aku itu tak cukup. Aku ingin hubungan kita lebih dari
persahabatan, aku tu maunya kamu jadi pacar aku” Puput mengungkap perasaannya
pada Abi.
Kira-kira Abi mau gak ya jadi pacarnya Puput, atau
penolakan lagi. . . Kalau aku yang nembak sich ku maunya diterima. . .hehe. . .
Boong ketang. . . Ku kan dah punya someone. . . Cie. . . kaya yang laku aja ya
aku. . .
Ah udah kita lanjutin lagi ceritanya. . . takut
keceplosan!
Abi pun diam tak berbicara, marah sich pastinya gak
mungkin karena Abi bukan seorang pemarah, kecuali mungkin sama Lusi. Namun Abi
cuma memberi jawaban. . . eng. . ing. . eng. .
“Pikir-pikir dulu dech. . . . .”
“Ya udah aku gak maksa, ku beri kamu waktu, aku tunggu
ya jawaban mu” jawab Puput dengan harapan.
“Udah sore, mending kita pulang sekarang yu. . takut
orang tua kita pada nyariin” ajak Abi.
Sesampainya Abi di rumah, dia bingung pikirin jawaban
buat Puput. “Kenapa semuanya harus begini? Mungkin saja aku jalani hubungan
dengan Puput, tapi. . . Puput itu sodara ku, mungkin dia tidak tau aku
sodaranya, karena aku memang sodara jauhnya. Aku bisa saja terima dia, tapi aku
gak mau pacaran sama sodara sendiri, tapi aku juga gak mau nyakitin hati sodara
sendiri. Harus gimana ini?? Bingung. . .!”
Abi diam beberapa saat memikirkan harus gimana.
“Baiklah, mungkin Puput bisa mengerti kenapa aku tidak
menerimanya nanti, dan semoga saja hubungan kita akan baik-baik saja setelah
ini” Abi memutuskan.
Esoknya di sekolah. Pas pulang sekolah Abi menyuruh
Puput agar jangan pulang dulu. Karena Abi udah punya jawaban yang tepat buat
Puput.
“Put, langsung aja, aku minta maaf banget aku gak bisa
terima cinta kamu. Tapi maaf aku tidak bisa memberi tahu apa alasannya. Sekali
lagi maaf banget. . . ku harap kamu ngerti” Abi tidak memberi tahu bahwa
sebenarnya Puput adalah sodaranya. Aku sendiri gak tau tu kenapa Abi gak kasih
tau kalau Puput sodaranya.
“Apa alasannya?? Apa Bi???” Tanya Puput penasaran sambil
marah. Tapi Abi hanya diam saja diam tanpa kata. Caile. . . diam tanpa kata,
kaya judul lagu aja!
“Kamu jahat Bi, kamu gak kasih tahu aku apa alasannya!
Aku benci kamu!!!” Puput membentak
sambil menangis kecewa dan langsung pergi lari ke rumahnya, dan Abi tidak tau
harus gimana. Sampai sekarang Puput tetap menjauhi Abi dan tidak mau mendengar
lagi tentang Abi apa pun itu.
Abi terpaksa menahan rasa sakitnya dalam hati dijauhi
oleh Puput, tapi Abi sayang terus ke Puput sebagai seorang sodara dan meskipun
sekarang Puput menjauhinya, Abi kan tetap menjaganya.
Kini Puput telah punya cowok lain, dan Abi mempercayakan
Puput kepada cowok pilihan Puput sekarang untuk menjaga dan melingdungi Puput.
Abi merasa seneng banget karena cowok pilihan Puput itu adalah teman dekat Abi
yang baik yaitu Riko.
Waktu berputar cepat, langkah ku terhenti di akhir
cerita. “Cinta Tak Terbalas” memang benar, jika cinta tak terbalas maka
hancurlah hati ini. . . Malam sudah larut, waktunya tarik selimut, si penulis
di gigit semut. . .makin malam makin imut. . .hehehe!!!
Abi, Lusi dan Puput emang ada di kelas X-2. Tapi mereka
siapa? ku gak mau kasih tau ah. . . itu masih rahasia perusahaan. . . nanti
juga pada tau sendiri. Mungkin si Lusi juga menceritakan dirinya sendiri. . .
jawabannya pasti ketemu, wong kuncinya juga dah banyak dan jelas gitu re. . .!
Tapi disini Dina, Putri, Kak Imran dan Riko cuman
tokoh-tokoh bawaan si penulis aja, tapi keberadaannya bener ada juga loh. .
.jadi gimana dong. . .?? Pikir aja sendiri. . ha. . ha. . ha. .
“CINTA TAK TERBALAS”